Jakarta: Ketua Yayasan Griya Lansia Malang, Arief Chamra, berbagi kisah tentang perjuangannya merawat ratusan lansia terlantar dan anak yatim. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk panggilan kemanusiaan yang muncul secara alami tanpa direncanakan sebelumnya.
Arief menjelaskan bahwa motivasinya berasal dari niat sederhana untuk memberi manfaat bagi sesama. “Awalnya tidak pernah terbayang bisa terjun ke dunia ini, tapi mungkin memang sudah jalan hidup,” ujarnya kepada Pro 3 RRI.
Arief menuturkan bahwa perjalanannya dimulai sejak tahun 2017, saat membantu lansia secara mandiri sebelum mendirikan wadah resmi. Ia menyebutkan, pada 2021 Griya Lansia Husnul Khatimah Malang resmi berdiri, dan kini menampung lebih dari 200 lansia serta puluhan anak yatim.
“Dulu saya hanya berkeliling membantu, tapi lama-lama ingin punya rumah perawatan yang lebih layak,” ucapnya.
Arief menilai tantangan utama bukan hanya soal biaya, melainkan keterbatasan sumber daya manusia yang mau merawat lansia. Ia menyebut perawatan terhadap lansia telantar membutuhkan kesabaran tinggi dan tenaga yang berdedikasi.
“Yang paling sulit itu mencari orang yang benar-benar ikhlas merawat lansia, bukan sekadar bekerja,” ujarnya
Arief mengungkapkan bahwa kebutuhan operasional panti sangat besar, terutama untuk pengadaan popok (diapers) yang mencapai ratusan juta rupiah per bulannya. Menurut dia, sebagian besar bantuan kini datang dari masyarakat dalam bentuk barang maupun dana sumbangan.
“Kalau makanan bisa disiasati, tapi diapers itu wajib tersedia dan tidak bisa digantikan,” ucapnya.
Lebih jauh, Arief menggambarkan bahwa semangatnya bertahan muncul dari rasa syukur melihat perubahan hidup para lansia. Ia menilai momen paling mengharukan adalah ketika mereka mengucapkan terima kasih dengan tulus atas perawatan yang diterima.
“Melihat mereka kembali tersenyum dan mengenal ibadah lagi, itu sudah cukup membayar lelah kami,” ujar Arief mengakhiri perbincangan. Dikutip dari RRI.co.id
