Harga minyak dunia mencatat rebound pada perdagangan awal Asia, Senin (5/1/2026), setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan menyatakan akan mengambil alih kendali negara Amerika Latin tersebut. Perkembangan geopolitik ini memicu kembali perhatian pelaku pasar terhadap risiko pasokan energi global.
Selain isu Venezuela, para pedagang juga mencermati keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi minyak tanpa perubahan, di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait konflik di Yaman.
Mengutip Investing.com, Senin (5/1/2026), harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Maret naik 0,3 persen menjadi USD 60,90 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka menguat tipis ke level USD 57,16 per barel.
Sepanjang 2025, harga minyak dunia tercatat merosot lebih dari 18 persen, menjadi penurunan terdalam dalam lima tahun terakhir. Pelemahan tersebut dipicu oleh kekhawatiran kelebihan pasokan global serta melemahnya permintaan minyak mentah.
Pasukan AS menangkap Nicolás Maduro dalam operasi militer pada akhir pekan lalu. Pemimpin Venezuela tersebut kini menghadapi tuduhan perdagangan narkoba di New York.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan mengendalikan Venezuela hingga terpilihnya pemimpin baru. Sebagai bagian dari pengambilalihan tersebut, perusahaan-perusahaan minyak besar asal AS akan diizinkan masuk ke Venezuela dan mengambil alih kendali produksi minyak negara itu.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, produksi minyaknya selama ini terhambat oleh infrastruktur yang menua serta sanksi Amerika Serikat yang membatasi ekspor energi negara tersebut.
Para analis menilai penguasaan AS atas sektor minyak Venezuela berpotensi meningkatkan pasokan minyak global dalam jangka menengah hingga panjang. Meski demikian, peningkatan pasokan tersebut justru dapat kembali menekan harga minyak mentah dunia, meskipun realisasinya diperkirakan membutuhkan waktu.
Di sisi lain, pasar minyak juga mencerna keputusan OPEC+ pada akhir pekan lalu untuk mempertahankan kebijakan produksi. Keputusan itu diambil setelah pertemuan singkat yang dilaporkan tidak secara khusus membahas meningkatnya ketegangan internal di antara beberapa anggota kartel.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan meningkat sejak akhir Desember, seiring eskalasi konflik berkepanjangan di Yaman.
Sepanjang 2025, OPEC+ telah meningkatkan produksi secara bertahap. Langkah tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan global dan menjadi faktor utama tekanan terhadap harga minyak dunia.
Dikutip dari metrotvnews.com
