United States Dollar Terkoreksi Tipis, Namun Berhasil Catat Kinerja Bulanan Terkuat

United States Dollar Terkoreksi Tipis, Namun Berhasil Catat Kinerja Bulanan Terkuat

Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah tipis pada perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu WIB. Meski demikian, mata uang tersebut masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025.

Penguatan dolar selama Maret didorong oleh statusnya sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berlangsung lebih dari satu bulan. Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Mengutip data dari Investing.com, Indeks Dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,6 persen ke level 99,96.

Meskipun melemah pada perdagangan terbaru, indeks dolar diperkirakan tetap mencatat kenaikan sekitar 2,4 persen sepanjang Maret 2026.

Pergerakan mata uang utama dunia

Menurut laporan Xinhua News Agency, pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi 1,1523 dolar AS dari posisi sebelumnya 1,1457 dolar AS.

Sementara itu, poundsterling Inggris juga naik tipis menjadi 1,3189 dolar AS dari 1,3186 dolar AS pada sesi perdagangan sebelumnya.

Dolar AS diperdagangkan pada level 158,95 yen Jepang, turun dibandingkan posisi sebelumnya di 159,58 yen Jepang.

Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap franc Swiss menjadi 0,8008 dari 0,8 franc Swiss. Mata uang tersebut juga menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,3937 dari 1,3926.

Namun terhadap krona Swedia, dolar AS justru melemah menjadi 9,4895 dari 9,5556 krona pada perdagangan sebelumnya.

Sentimen pasar membaik

Pelemahan dolar AS terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham. Para pelaku pasar mulai kembali membeli saham setelah muncul harapan akan meredanya konflik di Timur Tengah.

Sentimen positif muncul setelah laporan yang menyebut Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga memberikan sinyal bahwa negaranya siap mengakhiri konflik jika memperoleh jaminan keamanan dari serangan lebih lanjut.

Laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump telah memberi tahu para ajudannya bahwa ia terbuka untuk menarik diri dari konflik meskipun jalur pelayaran penting di Selat Hormuz masih tertutup.

Langkah tersebut dipertimbangkan karena upaya membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut diperkirakan akan memperpanjang durasi konflik melampaui target operasi militer AS yang diproyeksikan berlangsung antara empat hingga enam minggu.

Dikutip dari metrotvnews.com