Dolar AS Bertahan Kuat di Tengah Persaingan Enam Mata Uang Utama Dunia

Dolar AS Bertahan Kuat di Tengah Persaingan Enam Mata Uang Utama Dunia

Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin waktu setempat atau Selasa WIB. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan rencananya untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Mengutip Xinhua, Selasa, 10 Maret 2026, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,2 persen menjadi 99,178.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro turun menjadi USD1,1578 dari USD1,1606 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, poundsterling Inggris melemah menjadi USD1,3388 dari USD1,34 pada perdagangan sebelumnya.

Dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang dan franc Swiss. Mata uang AS diperdagangkan pada level 158,33 yen Jepang, naik dari 157,74 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS juga menguat menjadi 0,7799 franc Swiss dari 0,777 franc Swiss.

Namun, dolar AS sedikit melemah terhadap dolar Kanada. Mata uang tersebut turun menjadi 1,3591 dolar Kanada dari sebelumnya 1,3596 dolar Kanada. Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,21 dari 9,1855 krona Swedia.

Pernyataan Trump Soal Konflik Iran

Penguatan dolar AS juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut akan mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Meski demikian, Trump menyampaikan bahwa kemungkinan berakhirnya konflik tersebut mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat atau pada minggu ini.

Dalam unggahan terpisah di media sosial, Trump juga mengancam Iran terkait penghentian aliran minyak melalui Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi dampak yang jauh lebih besar jika tindakan tersebut terus berlanjut.

“Kita akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan sehingga hampir mustahil bagi Iran untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara,” ujar Trump.

Trump juga menyoroti lonjakan harga minyak global yang dinilainya telah meningkat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Ia menegaskan akan terus meminta Iran untuk memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang memasok sekitar 20 persen dari total permintaan minyak dunia. Iran, yang menguasai sebagian wilayah jalur tersebut, beberapa kali mengancam akan memblokir akses sebagai bagian dari konflik yang terjadi dengan Amerika Serikat.

Dikutip dari metrotvnews.com