Dolar AS Catat Penguatan di Tengah Dinamika Pasar Valas

Dolar AS Catat Penguatan di Tengah Dinamika Pasar Valas

Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sebagian besar mata uang utama dunia pada perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat WIB, setelah muncul sinyal beragam dari rilis indikator ekonomi terbaru AS.

Mengutip Xinhua, Jumat, 13 Februari 2026, indeks dolar—yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya—naik 0,1 persen menjadi 96,928.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro turun menjadi USD1,1866 dari USD1,1882 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga melemah menjadi USD1,3623 dari USD1,3637.

Sementara itu, dolar AS diperdagangkan pada 152,94 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 152,83 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah tipis terhadap franc Swiss menjadi 0,7697 dari 0,7703.

Mata uang Negeri Paman Sam itu juga menguat terhadap dolar Kanada menjadi 1,3611 dari 1,3561. Selain itu, dolar AS naik terhadap krona Swedia menjadi 8,9226 dari 8,8813.

Pasar Tenaga Kerja AS Stabil

Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penurunan yang lebih kecil dari perkiraan pada jumlah klaim baru tunjangan pengangguran. Kondisi tersebut konsisten dengan pandangan ekonom bahwa pasar tenaga kerja AS relatif stabil.

Data ini muncul di tengah indikator lain yang menunjukkan penurunan tingkat pengangguran pada Januari dengan pertumbuhan lapangan kerja yang kuat, meskipun penjualan ritel pada Desember tercatat lemah.

Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga hingga pertengahan tahun. Ekspektasi tersebut dinilai membatasi ruang penguatan dolar.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pasar memperkirakan peluang sebesar 92 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Sementara probabilitas pemangkasan suku bunga pada pertemuan Juni mendekati 50 persen.

Ekspektasi pemotongan suku bunga dalam waktu dekat turut membebani aset-aset AS. Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500, diperdagangkan lebih rendah.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami penurunan, dengan yield obligasi acuan tenor 10 tahun turun 7,7 basis poin menjadi 4,106 persen. Dinamika ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam mencermati arah kebijakan moneter AS ke depan.

Dikutip dari metrotvnews.com