Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, setelah sempat mengalami pelemahan pada sesi sebelumnya. Peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mendorong investor kembali mencari aset aman, termasuk dolar AS.
Dikutip dari Investing.com pada Jumat, 6 Maret 2026, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia naik sekitar 0,5 persen menjadi 99,23.
Kenaikan ini terjadi setelah indeks dolar sebelumnya turun sekitar 0,3 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Dengan penguatan tersebut, dolar kembali bergerak mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan yang sempat tercapai pada awal pekan ini.
Konflik Timur Tengah Dorong Permintaan Safe Haven
Permintaan terhadap dolar meningkat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi semakin memanas setelah Senat Amerika Serikat menolak mosi yang bertujuan menghentikan kampanye militer udara serta mewajibkan tindakan militer mendapat persetujuan Kongres.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di dekat Sri Lanka di perairan internasional. Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke kawasan di luar Teluk Persia.
Di sisi lain, Gedung Putih menyebut Mojtaba Khamenei sebagai kandidat utama untuk menggantikan pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh. Namun Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kandidat tersebut tidak dapat diterima dan menyatakan dirinya perlu menyetujui pemimpin Iran berikutnya.
Lonjakan harga minyak akibat konflik ini juga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi global. Kondisi tersebut membuat para pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya memberikan dukungan bagi penguatan dolar AS.
Data Ekonomi AS Perkuat Posisi Dolar
Selain faktor geopolitik, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat juga memperkuat posisi dolar di pasar global.
Data tenaga kerja menunjukkan kondisi pasar kerja yang masih kuat. Laporan penggajian swasta dari ADP mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Selain itu, laporan pemutusan hubungan kerja (PHK) dari Challenger menunjukkan penurunan signifikan jumlah PHK pada Februari dibandingkan Januari.
Data klaim pengangguran awal juga menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan pasar.
Analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, mengatakan bahwa dolar AS kembali memainkan perannya sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, dolar bahkan mampu mengungguli mata uang safe haven lain seperti franc Swiss dan yen Jepang.
Euro dan Poundsterling Melemah
Di pasar Eropa, pasangan mata uang EUR/USD turun sekitar 0,4 persen menjadi 1,1584. Nilai tukar euro diperdagangkan mendekati level terendah sejak akhir November.
Kenaikan harga energi dinilai dapat membebani prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa.
Analis dari ING menyebutkan bahwa euro berpotensi tetap berada dalam tekanan hingga krisis energi dapat teratasi.
Sementara itu, GBP/USD juga turun sekitar 0,3 persen menjadi 1,3329. Penurunan ini terjadi karena pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pelonggaran suku bunga dari Bank of England akibat potensi kenaikan biaya energi.
Pergerakan Mata Uang Asia
Di kawasan Asia, pasangan USD/CNY tercatat turun tipis sekitar 0,1 persen menjadi 6,8912.
Sebelumnya, pemerintah Tiongkok mengumumkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 4,5 hingga 5 persen. Target tersebut lebih rendah dibandingkan tiga tahun sebelumnya yang berada di sekitar lima persen.
Analis menilai kebijakan fiskal yang relatif stabil menunjukkan bahwa pemerintah Tiongkok masih berhati-hati dalam memberikan stimulus besar bagi perekonomian.
Sementara itu, USD/JPY naik sekitar 0,5 persen menjadi 157,80, mendekati level tertinggi dalam lima minggu terakhir.
Di sisi lain, dolar Australia melemah. Pasangan AUD/USD turun 1,3 persen menjadi 0,6986 setelah data menunjukkan surplus perdagangan Australia menyusut pada Januari.
Dikutip dari metrotvnews.com
