Dolar AS Terpuruk di Tengah Penguatan Mata Uang Global

Dolar AS Terpuruk di Tengah Penguatan Mata Uang Global

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat atau Sabtu WIB, di tengah sentimen konsumen AS yang menunjukkan perbaikan. Pelemahan ini tercermin dari pergerakan indeks dolar yang turun terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 7 Februari 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,2 persen menjadi 97,633.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat ke level USD1,1819 dari sebelumnya USD1,1794. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3616 dari USD1,3549 pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, dolar AS menguat tipis terhadap yen Jepang dan diperdagangkan di level 157,1 yen, naik dari 156,9 yen pada sesi sebelumnya. Namun, dolar AS melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,7754 dari 0,7774 franc Swiss.

Mata uang Negeri Paman Sam itu juga tercatat turun terhadap dolar Kanada menjadi 1,3658 dari 1,3682 dolar Kanada. Terhadap krona Swedia, dolar AS melemah ke level 9,0201 dari sebelumnya 9,0363.

Pergerakan dolar AS ini terjadi di tengah membaiknya sentimen konsumen Amerika Serikat. Indeks Sentimen Konsumen AS naik menjadi 57,3 pada Februari 2026, berdasarkan pembacaan awal Survei Konsumen Universitas Michigan, meningkat dari pembacaan akhir 56,4 pada Januari 2026.

Pembacaan awal Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini naik menjadi 58,3 pada Februari, dari 55,4 pada Januari, meski masih lebih rendah dibandingkan angka 65,7 pada Februari tahun lalu. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen berada di level 56,6, sedikit turun dari 57 pada Januari dan di bawah angka 64 pada Februari 2025.

Ekspektasi inflasi satu tahun ke depan tercatat turun dari 4,0 persen pada Januari menjadi 3,5 persen pada Februari, yang merupakan level terendah sejak Januari 2025. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata sepanjang tahun 2024.

Di sisi lain, ekspektasi inflasi jangka panjang meningkat tipis untuk bulan kedua berturut-turut, dari 3,3 persen pada Januari menjadi 3,4 persen pada Februari.

Direktur Survei Konsumen Universitas Michigan, Joanne Hsu, mengatakan bahwa meskipun sentimen konsumen saat ini berada pada level tertinggi sejak Agustus 2025, peningkatan bulanan yang terjadi masih relatif kecil.

Menurutnya, tingkat sentimen secara keseluruhan tetap rendah secara historis karena kekhawatiran terhadap tergerusnya kondisi keuangan pribadi akibat harga yang tinggi serta meningkatnya risiko kehilangan pekerjaan yang masih dirasakan oleh konsumen.

Dikutip dari metrotvnews.com