Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu WIB, meski Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan ekonomi yang solid pada kuartal III-2025. Sentimen pasar terhadap mata uang Negeri Paman Sam tetap tertekan oleh ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada tahun mendatang.
Mengutip The Star Malaysia, indeks dolar—yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia—turun 0,35 persen ke level 97,942. Pelemahan ini memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut.
Indeks dolar tercatat berada di level terendah sejak awal Oktober dan berpotensi mencatat penurunan bulanan sebesar 1,4 persen, yang menjadi penurunan terbesar sejak Agustus. Secara tahunan, indeks dolar telah melemah 9,6 persen dan berpeluang menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2017.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat ke level USD1,1790 dari USD1,1755 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3497 dari USD1,3458.
Sementara itu, dolar AS melemah terhadap yen Jepang dan diperdagangkan di level 156,20 yen, turun dari 156,92 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS juga turun menjadi 0,7877 franc Swiss dari sebelumnya 0,7918 franc Swiss.
Pelemahan dolar turut terjadi terhadap dolar Kanada yang menguat ke level 1,3694 per dolar AS dari 1,3747. Terhadap krona Swedia, dolar AS merosot menjadi 9,1684 dari 9,2396 pada sesi sebelumnya.
Meski data ekonomi AS menunjukkan kinerja kuat, laporan tersebut justru memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Berdasarkan perkiraan LSEG, peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan akhir Januari mencapai 87 persen.
Kontrak berjangka suku bunga AS kini memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter berikutnya baru akan terjadi pada Juni, dengan dua kali pemotongan masing-masing sebesar 25 basis poin yang diproyeksikan berlangsung sepanjang 2026.
Diketahui, Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat tumbuh 4,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2025. Angka tersebut melampaui ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,3 persen (yoy).
Analis strategi dari MUFG menyebut pelemahan dolar AS sepanjang tahun ini kemungkinan bukan bersifat sementara. Tekanan terhadap dolar juga diperkuat oleh data kepercayaan konsumen AS yang memburuk pada Desember.
Conference Board melaporkan indeks kepercayaan konsumen AS turun 3,8 poin menjadi 89,1. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters di level 91,0.
Dikutip dari metrotvnews.com
