Pergerakan harga emas dunia diperkirakan kembali menunjukkan potensi penguatan dalam waktu dekat. Prospek tersebut didorong oleh kombinasi sinyal teknikal yang mulai positif serta dukungan dari sejumlah faktor fundamental global.
Analis dari Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa saat ini emas sedang berada dalam fase konsolidasi yang berpotensi menjadi dasar bagi kelanjutan tren kenaikan harga.
Sinyal Teknikal Mulai Positif
Menurut Geraldo, secara teknikal harga emas sebelumnya telah menyelesaikan fase secondary trend atau koreksi jangka menengah. Saat ini harga mulai menunjukkan tanda stabilisasi di area support dinamis yang terbentuk dari indikator Moving Average 21 dan 34.
Area tersebut berfungsi sebagai penopang harga dalam pergerakan jangka pendek. Selama harga tetap bertahan di atas kedua indikator tersebut, tekanan beli dinilai masih cukup kuat di pasar.
Ia menambahkan bahwa harga emas saat ini sedang berupaya membentuk struktur swing low yang valid di sekitar level 4.698. Area tersebut dinilai sebagai support penting yang dapat menentukan arah pergerakan emas berikutnya.
Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk melanjutkan tren kenaikan masih terbuka.
Dalam proyeksinya, apabila momentum beli kembali menguat, harga emas berpotensi naik menuju resistance terdekat di level 4.799. Jika level tersebut berhasil ditembus, maka target kenaikan berikutnya diperkirakan berada di area 4.858.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati potensi fluktuasi dalam jangka pendek sebelum arah pergerakan yang lebih jelas terbentuk.
Didukung Faktor Fundamental Global
Dari sisi fundamental, prospek kenaikan emas juga didukung oleh sejumlah faktor global yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Salah satu sentimen utama adalah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu mendatang.
Indikasi perlambatan inflasi di Amerika Serikat membuka ruang bagi kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral tersebut.
Penurunan suku bunga biasanya diikuti oleh melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketika yield obligasi menurun, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah sehingga logam mulia tersebut menjadi lebih menarik bagi investor.
Selain itu, pelemahan dolar AS juga memberikan dorongan tambahan bagi kenaikan harga emas. Dolar yang lebih lemah membuat harga emas relatif lebih murah bagi investor global, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan.
Di tengah kondisi tersebut, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global juga turut mempertahankan minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures menilai peluang kenaikan harga emas masih cukup terbuka dalam jangka pendek.
Selama harga mampu bertahan di atas area support krusial, arah pergerakan emas diperkirakan masih cenderung bullish dengan potensi melanjutkan tren kenaikan dalam waktu dekat.
