Harga minyak diperdagangkan sedikit lebih tinggi pada Rabu, 31 Desember 2025, di hari perdagangan terakhir tahun ini. Namun, harga minyak masih menuju kerugian tahunan terbesar sejak 2020 karena kekhawatiran kelebihan pasokan mendominasi pasar sepanjang tahun, meskipun risiko geopolitik hanya memberikan dukungan sesekali.
Dikutip dari Investing.com pada 1 Januari 2026, harga minyak Brent berjangka untuk kontrak Maret naik 0,2 persen menjadi USD61,47 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka juga naik 0,2 persen, diperdagangkan pada USD58,11 per barel.
Brent diperkirakan akan turun sekitar 18 persen sepanjang tahun 2025, sedangkan WTI berada di jalur penurunan hampir 20 persen, menandai penurunan tahunan terbesar sejak guncangan permintaan akibat Covid-19 lima tahun lalu.
Minyak Tertekan oleh Risiko Kelebihan Pasokan
Penurunan tajam ini mencerminkan kekhawatiran atas kelebihan pasokan global, sebagian besar dipicu oleh langkah OPEC+ yang mulai melonggarkan pemotongan produksi. Setelah menahan produksi selama sebagian besar tahun 2023 dan 2024, kelompok produsen secara bertahap menambah volume produksi pada 2025, menambah pasokan di pasar yang sudah cukup terpasok.
Kondisi ini diperparah oleh produksi non-OPEC yang tangguh dan pertumbuhan permintaan global yang lebih lambat dari perkiraan, sehingga menekan harga minyak mentah sepanjang tahun.
Investor kini menantikan pertemuan OPEC+ pada 4 Januari 2026 melalui konferensi video untuk meninjau kondisi pasar dan membahas kebijakan produksi awal tahun.
Risiko Geopolitik Memberikan Sedikit Kelegaan
Ketegangan geopolitik memberikan dukungan terbatas bagi harga minyak, meskipun dampaknya cenderung bersifat sementara. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia selama perang di Ukraina sempat menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan.
Konflik Israel-Hamas dan ketegangan antara AS dan Iran juga sesekali memanas, memperbarui kekhawatiran terhadap aliran minyak dari Timur Tengah. Ketegangan antara Washington dan Caracas menambah ketidakpastian ekspor Venezuela, yang sedikit mendukung harga minyak.
Baru-baru ini, Uni Emirat Arab menyatakan akan menarik pasukannya dari Yaman setelah meningkatnya ketegangan dengan Arab Saudi terkait operasi militer di negara tersebut. Baik Arab Saudi maupun UEA merupakan anggota kunci OPEC, sehingga langkah ini menjadi perhatian bagi pasar minyak global.
Dikutip dari metrotvnews.com
