Futures Wall Street Turun di Tengah Kenaikan Harga Minyak Global

Futures Wall Street Turun di Tengah Kenaikan Harga Minyak Global

Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street merosot pada Minggu waktu setempat atau Senin pagi WIB. Penurunan ini terjadi setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah melonjak hingga melampaui USD100 per barel.

Mengutip Investing.com pada Senin, 9 Maret 2026, kontrak berjangka S&P 500 turun 1,7 persen menjadi 6.632,75 poin. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 melemah 1,8 persen menjadi 24.234,0 poin dan kontrak berjangka Dow Jones juga turun 1,7 persen menjadi 46.696,0 poin.

Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Wall Street sebelumnya juga mengakhiri perdagangan pekan lalu di zona negatif seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Dow Jones Industrial Average tercatat turun sekitar tiga persen dalam sepekan, sementara S&P 500 melemah dua persen. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi mencatat penurunan mingguan sebesar satu persen.

Penurunan kontrak berjangka terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat selama akhir pekan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan naik hingga di atas USD100 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan energi serta potensi risiko terhadap jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.

Lonjakan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran bahwa guncangan energi baru dapat mendorong inflasi kembali meningkat dan menekan daya beli konsumen di Amerika Serikat.

Jika harga minyak mentah terus bertahan di level tinggi, kondisi ini dapat memperumit prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Bank sentral AS mungkin menghadapi dilema karena tekanan inflasi tetap tinggi di tengah tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru

Perkembangan geopolitik juga semakin memengaruhi pasar setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Penunjukan ini dilakukan setelah meninggalnya Ali Khamenei.

Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh garis keras dan diperkirakan akan mempertahankan sikap konfrontatif Iran terhadap negara-negara Barat.

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akan terus berlanjut dan berpotensi memicu ketidakstabilan di pasar global.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan melalui unggahan pada Minggu malam bahwa kenaikan harga minyak merupakan konsekuensi yang dapat diterima dari aksi militer terhadap program nuklir Iran.

Trump menilai kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara. Ia juga menyatakan bahwa lonjakan harga energi tersebut merupakan harga kecil yang harus dibayar untuk menghancurkan ancaman nuklir Iran.

Dikutip dari metrotvnews.com