Harga emas sedikit turun pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026, atau turun di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada awal pekan ini. Pelemahan terjadi setelah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat meredam ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, serta meredanya ketegangan geopolitik di Iran yang mengurangi permintaan terhadap aset safe-haven.
Dikutip dari Investing.com, Sabtu, 17 Januari 2026, harga emas spot turun 0,3 persen ke level USD4.601,02 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS melemah 0,4 persen menjadi USD4.605,45 per ons.
Logam mulia tersebut telah bergerak turun dari rekor tertinggi USD4.642,72 per ons yang dicapai pada Rabu. Meski terkoreksi, harga emas batangan masih berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan kenaikan mingguan sekitar dua persen.
Sentimen investor terhadap emas berubah setelah data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis menunjukkan klaim awal pengangguran turun lebih besar dari perkiraan. Data tersebut menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Angka yang lebih kuat dari estimasi tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi ini mendorong pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi waktu pemangkasan suku bunga sepanjang 2026.
Suku bunga yang tinggi umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Tekanan terhadap harga emas juga datang dari penguatan dolar AS, setelah Indeks Dolar melonjak ke level tertinggi enam pekan terhadap sekeranjang mata uang utama, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Di sisi geopolitik, permintaan emas sebagai aset aman turut melemah seiring meredanya ketegangan terkait Iran. Sebelumnya, harga emas melonjak karena kekhawatiran eskalasi konflik akibat protes besar-besaran dan tindakan keras pemerintah Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meredam pernyataan kerasnya terkait kemungkinan intervensi militer, serta mengindikasikan bahwa situasi di Iran mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Sikap tersebut mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang reli harga emas.
Pada perdagangan yang sama, logam mulia dan logam industri lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak turun 2,5 persen menjadi USD90,173 per ons, meski masih berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 14 persen setelah mencetak rekor baru di awal pekan.
Harga platinum berjangka merosot 3,6 persen menjadi USD2.322,65 per ons. Analis Saxo Bank menilai perak masih menarik minat spekulatif yang tinggi, sehingga pergerakan harganya cenderung volatil dan menantang bagi pelaku pasar.
Sementara itu, kontrak berjangka tembaga acuan di London Metal Exchange turun 1,9 persen ke level USD12.886,00 per ton. Kontrak berjangka tembaga AS juga melemah dua persen menjadi USD5,8715 per pon, tertekan oleh penguatan dolar AS dan sentimen kehati-hatian investor.
Dikutip dari metrotvnews.com
