Harga minyak dunia melemah pada Senin, 23 Februari 2026, setelah reli kuat pekan sebelumnya. Investor mencermati prospek putaran ketiga pembicaraan nuklir Amerika Serikat–Iran serta ketidakpastian baru dari kebijakan tarif AS.
Dikutip dari Investing.com, Selasa (24/2/2026), kontrak berjangka minyak Brent untuk April turun 0,1 persen menjadi USD71,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,1 persen menjadi USD66,41 per barel.
Sebelumnya, kedua kontrak melonjak hampir enam persen dalam sepekan terakhir akibat kekhawatiran potensi konflik AS-Iran dan penurunan tak terduga stok minyak mentah AS.
Pasar Menanti Pembicaraan Nuklir AS-Iran
Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa. Harapan deeskalasi ketegangan geopolitik menjadi sentimen penahan kenaikan harga minyak.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan kepada program CBS Face the Nation bahwa peluang solusi diplomatik cukup besar dan berada dalam jangkauan.
Sebagai salah satu produsen utama di OPEC, Iran memegang peran penting dalam pasokan global. Negara tersebut juga berada di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia melalui laut. Setiap eskalasi di kawasan itu berpotensi mengganggu pasokan dan meningkatkan biaya logistik serta asuransi.
Tarif Global Baru Trump Tekan Sentimen
Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif global baru sebesar 15 persen selama 150 hari, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif darurat sebelumnya.
Tarif yang lebih tinggi dinilai berisiko memperlambat perdagangan global dan produksi industri, yang pada akhirnya dapat menekan permintaan energi.
Analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, menyebut bahwa meskipun faktor geopolitik masih memberi dukungan harga, kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan global membatasi kenaikan lebih lanjut.
Goldman Sachs Revisi Proyeksi Harga
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak kuartal IV 2026. Brent diperkirakan mencapai USD60 per barel dan WTI USD56 per barel, masing-masing naik USD6 dari perkiraan sebelumnya.
Untuk rata-rata tahun ini, Brent diproyeksikan berada di USD64 per barel (dari sebelumnya USD56), sedangkan WTI di USD60 (dari USD52). Revisi ini didasarkan pada penurunan stok di negara-negara OECD, meskipun Goldman tetap memperkirakan tidak ada gangguan pasokan besar dari Iran dan mempertahankan asumsi surplus pasokan tahun ini.
Dikutip dari metrotvnews.com
