Indeks Dolar AS Menguat Usai Trump Tarik Ancaman Tarif Greenland

Indeks Dolar AS Menguat Usai Trump Tarik Ancaman Tarif Greenland

Dolar Amerika Serikat menguat tajam terhadap euro dan franc Swiss pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis WIB, seiring meredanya ketegangan perdagangan global setelah Presiden AS Donald Trump menarik ancaman pengenaan tarif terhadap sejumlah negara.

Mengutip Investing.com pada Kamis, 22 Januari 2026, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia lainnya tercatat naik 0,12 persen ke level 98,761.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah ke posisi USD1,1682 dari USD1,1712 pada sesi sebelumnya. Pound sterling Inggris juga turun menjadi USD1,3415 dari USD1,3428.

Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen Jepang dan franc Swiss. Dolar diperdagangkan di level 158,50 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan 158,29 yen pada sesi sebelumnya. Terhadap franc Swiss, dolar AS naik menjadi 0,7964 dari sebelumnya 0,7904.

Di sisi lain, dolar AS justru melemah terhadap sejumlah mata uang lainnya. Dolar turun ke 1,3827 dolar Kanada dari 1,3834, serta melemah ke 9,1111 krona Swedia dari 9,1369 krona Swedia.

Penguatan dolar AS terjadi setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman untuk mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara Uni Eropa terkait sikap mereka terhadap isu Greenland. Sebelumnya, ancaman tersebut sempat memicu kepanikan pasar dan aksi jual besar-besaran pada aset Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump menyebut telah mencapai kesepakatan mengenai kerangka kerja kesepakatan masa depan tentang Greenland bersama NATO. Ia juga menegaskan telah mengesampingkan opsi tindakan militer di wilayah tersebut, sehingga meredakan kekhawatiran investor.

Sebelumnya, Trump berencana menerapkan gelombang kenaikan tarif mulai 1 Februari terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, serta Inggris dan Norwegia, hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland. Rencana tersebut menuai kecaman luas dari negara-negara Uni Eropa dan dinilai sebagai bentuk tekanan politik.

Meski Trump menyatakan tidak akan melanjutkan kebijakan tarif tersebut, para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Kamis waktu setempat untuk membahas langkah dan opsi lanjutan menyikapi dinamika hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Dikutip dari metrotvnews.com