Kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan sembako terjadi di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, pada awal 2026. Lonjakan harga paling terasa terjadi pada komoditas sayur mayur dan bumbu dapur, sehingga memaksa ibu rumah tangga untuk lebih berhemat dalam mengatur pengeluaran harian.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga sawi hijau mengalami kenaikan dari Rp8 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. Sementara itu, harga kemiri melonjak cukup signifikan dari Rp40 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pembeli. Salah satunya, Ade Wahyuni (42), ibu rumah tangga yang mengaku harus menyesuaikan jumlah belanja ketika harga pangan mengalami kenaikan.
“Kalau biasanya sih dikurang-kurangin bahannya, jadi sesuai dengan uangnya yang ada. Menghemat sih yang penting, karena kan ibu rumah tangga memang harus bisa seperti itu. Kalau belanja terus kan habisnya besar,” ujar Ade saat ditemui seusai berbelanja di Pasar Ciputat, Kamis (8/1/2026).
Ade menambahkan, berbelanja sesuai kebutuhan menjadi kunci penting dalam menghadapi fluktuasi harga pangan yang tidak menentu. Meski harga naik, kebutuhan makan tetap harus dipenuhi.
“Mau harga naik itu kan kebutuhan, kita memang harus makan,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Mimin (46), ibu rumah tangga lainnya. Menurutnya, kemampuan mengatur keuangan menjadi hal utama agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali.
“Zaman sekarang kalau kita ngikutin orang beli apa, susah. Jadi harus sebisa mungkin mengatur keuangan,” kata Mimin.
Sementara itu, pedagang sayur di Pasar Ciputat menyebut kenaikan harga dipengaruhi oleh faktor cuaca. Musim hujan yang tidak menentu menyebabkan pasokan berkurang dan berdampak pada harga jual.
“Timun sekarang nyampe Rp15 ribu. Harga normalnya biasanya Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per kilogram,” ujar Yani (50), pedagang sayur.
Selain memicu kenaikan harga, musim hujan juga berdampak pada penurunan jumlah pembeli. Kondisi pasar yang becek dan hujan membuat masyarakat enggan berbelanja langsung ke pasar tradisional.
“Kalau musim hujan itu omsetnya lain, soalnya kan orang mau ke pasar juga males, hujan, becek,” pungkas Yani.
Dikutip dari metrotvnews.com
