Ketidakpastian Geopolitik Global Membebani Pergerakan Dolar AS

Ketidakpastian Geopolitik Global Membebani Pergerakan Dolar AS

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Jumat, 2 Januari 2026, dan menuju penurunan mingguan terdalam sejak Juni 2025. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang membebani aset-aset AS.

Dikutip dari Investing.com, Sabtu, 24 Januari 2026, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya tercatat turun tipis ke level 98,170. Secara mingguan, indeks dolar diperkirakan mencatat penurunan sekitar satu persen, menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Juni tahun lalu.

Investor Terus Menghukum Dolar

Dolar AS terus berada di bawah tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perubahan lanskap geopolitik global. Pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai tidak terlalu memperhatikan potensi dampak kebijakan luar negeri AS terhadap hubungan dengan sekutu-sekutu Eropa.

Presiden AS disebut telah menyetujui kesepakatan terkait akses ke Greenland, sekaligus menarik kembali ancaman tarif perdagangan serta penggunaan kekuatan militer untuk menguasai wilayah tersebut. Meski demikian, langkah itu tetap meninggalkan sentimen negatif di kalangan pejabat Eropa.

Bahkan, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dilaporkan meninggalkan jamuan makan tingkat tinggi di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, usai pidato Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick yang dinilai sangat kritis terhadap Eropa.

Analis ING dalam catatannya menyebutkan terdapat tiga tema utama yang saat ini mendominasi pasar valuta asing global, yakni sentimen risk-on terhadap ekonomi global pada 2026, tren pelemahan dolar AS, serta lemahnya posisi fiskal sejumlah negara.

Poundsterling Menguat, Euro Melemah

Di pasar Eropa, pasangan GBP/USD naik 0,1 persen ke level 1,3497, mendekati posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir. Penguatan poundsterling didorong oleh rilis data penjualan ritel Inggris yang meningkat secara tak terduga pada Desember 2025.

Volume penjualan ritel Inggris naik 0,4 persen dibandingkan November, menjadi kenaikan pertama sejak September dan melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 0,1 persen secara bulanan. Data tersebut memperkuat sinyal pemulihan ekonomi Inggris.

Sementara itu, EUR/USD justru melemah 0,1 persen ke level 1,1742, turun dari posisi tertinggi tiga pekan yang tercapai awal pekan ini. Pelemahan terjadi meski data aktivitas ekonomi zona euro terbilang cukup solid.

Indeks PMI komposit zona euro tercatat berada di level 51,5 pada Januari, berada di wilayah ekspansif dan tidak berubah dibandingkan Desember.

Pergerakan Mata Uang Asia

Di kawasan Asia, USD/JPY bergerak relatif stabil di level 158,37. Stabilnya yen Jepang terjadi setelah Bank Sentral Jepang (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.

BOJ juga sedikit merevisi naik proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi untuk tahun fiskal 2025 dan 2026, dengan mempertimbangkan potensi dukungan tambahan dari belanja pemerintah.

Di sisi lain, USD/CNY turun 0,1 persen ke level 6,9644. Pelemahan dolar terhadap yuan terjadi setelah Bank Rakyat Tiongkok menetapkan titik tengah harian yuan di bawah level 7 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2023, yang mencerminkan dukungan kuat terhadap mata uang Tiongkok.

Adapun AUD/USD naik tipis ke 0,6841, sementara USD/NZD melemah 0,4 persen ke level 0,5900.

Dikutip dari metrotvnews.com