Harga minyak dunia ditutup lebih tinggi pada Jumat, 13 Maret 2026, memperpanjang reli mingguan dan tetap bertahan di atas level psikologis USD100 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global setelah Selat Hormuz ditutup akibat konflik yang melibatkan Iran.
Penutupan jalur strategis tersebut memicu kekhawatiran terjadinya guncangan inflasi global karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Mengutip Investing.com pada Sabtu, 14 Maret 2026, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 3,2 persen menjadi USD103,69 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,7 persen menjadi USD99,31 per barel.
Dalam dua minggu terakhir sejak konflik Iran dimulai pada akhir Februari, harga minyak Brent telah melonjak sekitar 43,1 persen. Sementara itu, harga minyak WTI mencatat lonjakan lebih tinggi lagi, yakni sekitar 48,2 persen.
AS izinkan pembelian minyak Rusia
Pada awal sesi perdagangan Jumat, harga minyak sempat berada di bawah tekanan setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan kebijakan baru yang mengizinkan pembelian minyak mentah Rusia yang sudah berada di laut.
Kebijakan ini diambil untuk membantu menstabilkan pasokan energi global yang terganggu akibat perang di Timur Tengah.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meredam gejolak pasar energi. Awal pekan ini, pemerintah AS juga memberikan beberapa pengecualian terhadap sanksi minyak Rusia.
Salah satu negara yang diizinkan melanjutkan pengiriman minyak Rusia adalah India, yang merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia.
Selain itu, pemerintah AS juga berencana mengerahkan Angkatan Laut untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Jalur sempit yang berada di selatan Iran ini menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ancaman serangan dari Iran membuat aktivitas pengiriman di selat tersebut nyaris berhenti, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi akibat energi.
Perjalanan naik turun harga minyak
Meski sempat melemah pada awal perdagangan, harga minyak akhirnya berbalik naik dan menutup sesi dengan penguatan. Sepanjang pekan ini, harga minyak mengalami volatilitas yang sangat tinggi.
Pada satu titik, harga minyak Brent sempat melonjak hingga mendekati USD120 per barel sebelum kemudian turun tajam hingga sempat berada di bawah USD90 per barel.
Analis Vital Knowledge yang dipimpin oleh Adam Crisafulli menyebut bahwa kondisi pasokan minyak sebenarnya tidak seburuk yang digambarkan oleh sebagian pemberitaan.
Menurut mereka, minyak mentah Iran masih tetap keluar melalui Selat Hormuz meskipun konflik militer berlangsung. Selain itu, beberapa negara seperti India dilaporkan masih dapat melanjutkan ekspor melalui jalur tersebut.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) juga telah mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel, yang menjadi pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Beberapa jalur pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang melewati Selat Hormuz juga masih dapat digunakan untuk mengalihkan sebagian pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Para analis juga menilai bahwa hingga saat ini kedua pihak yang berkonflik masih menahan diri. Amerika Serikat dan Israel belum secara langsung menargetkan infrastruktur minyak utama Iran, sementara kelompok sekutu Iran seperti Houthi di Yaman belum terlibat secara aktif.
Militer AS akan membuka kembali Selat Hormuz
Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-13 pada Jumat. Teheran dilaporkan meluncurkan sejumlah serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan infrastruktur energi di beberapa negara Timur Tengah.
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, sebelumnya menyatakan bahwa negaranya akan memblokir Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Penutupan jalur strategis ini meningkatkan kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan minyak global dalam jangka panjang.
Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan bahwa situasi di Selat Hormuz sedang ditangani oleh militer AS dan pihaknya akan berupaya membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana operasi tersebut.
Analis ANZ menilai bahwa konflik yang sedang berlangsung kini tidak lagi sekadar guncangan geopolitik jangka pendek, melainkan telah memasuki fase yang berpotensi menciptakan gangguan pasokan energi secara struktural.
Mereka memperkirakan volatilitas harga minyak akan tetap tinggi dalam waktu dekat, dengan kecenderungan harga yang terus meningkat apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Harga minyak bisa mencapai USD125 per barel
Analis dari JPMorgan menilai bahwa harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila ingin menyamai besarnya guncangan pasokan energi yang pernah terjadi sebelumnya.
Sejak dekade 1970-an, tercatat setidaknya lima peristiwa besar yang menyebabkan harga minyak melonjak lebih dari 50 persen di atas rata-rata harga dua tahun sebelumnya selama minimal enam bulan.
Menurut analis JPMorgan Bruce Kasman dan Nora Szentivanyi, konflik terbaru yang melibatkan Iran dapat menjadi guncangan pasokan energi global keenam.
Namun hingga saat ini, kenaikan harga minyak masih belum mencapai level yang setara dengan guncangan besar sebelumnya.
Pada level sekitar USD100 per barel, harga minyak Brent masih berada kurang dari 35 persen di atas rata-rata dua tahun terakhir. Untuk menyamai dampak guncangan energi seperti saat invasi Rusia ke Ukraina, harga minyak diperkirakan perlu mendekati USD150 per barel dan bertahan pada level tersebut selama beberapa bulan.
Dikutip dari metrotvnews.com
