Harga emas dunia (XAU/USD) terpantau melemah pada awal perdagangan sesi Asia Rabu, 10 Desember 2025. Logam mulia tersebut bergerak di sekitar level USD4.210 setelah sebelumnya sempat menguat pada sesi perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap waspada pelaku pasar menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan rilis malam hari waktu setempat.
Pasar memperkirakan The Fed berpotensi memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, namun masih menyampaikan pesan bernada hawkish. Ekspektasi ini menjadi salah satu faktor penekan harga emas yang banyak diburu sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian kebijakan moneter meningkat.
Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, pergerakan emas sebenarnya masih menunjukkan tren bullish. Pada perdagangan Selasa (9/12), harga emas menguat 0,57 persen setelah memantul dari level terendah harian di USD4.170 hingga menyentuh area USD4.213.
Andy menjelaskan bahwa laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid menjadi pendukung kenaikan harga emas. Meski demikian, data tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk membatalkan rencana The Fed dalam melonggarkan suku bunga. Secara teknikal, kombinasi pola candlestick serta indikator Moving Average masih menunjukkan potensi penguatan tren bullish ke depan.
Ia menambahkan bahwa sentimen pasar pada perdagangan hari ini sangat bergantung pada hasil rapat FOMC serta pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell. Sinyal jeda dalam pemangkasan suku bunga berikutnya berpeluang memberikan tekanan lebih lanjut pada emas.
Jika tekanan beli meningkat setelah keputusan The Fed diumumkan, emas diperkirakan dapat melanjutkan kenaikan menuju level resistance penting di kisaran USD4.256. Namun apabila pernyataan Powell dianggap lebih hawkish, koreksi harga berpotensi membawa emas turun kembali ke area USD4.177.
Sementara itu, faktor fundamental global turut membentuk arah harga emas. Probabilitas pemangkasan suku bunga telah meningkat menjadi sekitar 90 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Pemotongan suku bunga yang bersifat hawkish atau hawkish cut menjadi risiko bagi emas, mengingat logam ini tidak memberikan imbal hasil.
Dukungan fundamental jangka panjang datang dari permintaan emas oleh bank sentral dunia. Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) tercatat kembali meningkatkan cadangan emas selama 13 bulan berturut-turut pada November. Namun dalam jangka pendek, penguatan dolar AS ke level 99,26 dan imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi di 4,178 persen masih menjadi tantangan bagi harga emas.
Dengan kondisi pasar yang dipenuhi ketidakpastian, volatilitas pergerakan emas diperkirakan tetap tinggi hingga konferensi pers The Fed berlangsung. Meski dalam tekanan, tren kenaikan yang sebelumnya terbentuk masih memberikan peluang bagi emas untuk kembali menguat apabila sentimen kebijakan tidak terlalu agresif.
Dikutip dari metrotvnews.com
