Saat ini, modus pelaku kejahatan siber makin bervariasi. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menyebut pola spoofing, masking, dan penyalahgunaan identitas pelanggan kerap menjadi modusnya.
“Saat ini, isu yang paling sering muncul adalah mengenai scam call atau panggilan penipuan. Penipuan ini terjadi melalui telepon, SMS, messenger service, surat elektronik, dan berbagai saluran lain. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mencegah hal ini?” ungkap Edwin di Jakarta, Sabtu (15/11).
Oleh sebab itu, Ia meminta operator membangun sistem antiscam dengan memanfaatkan AI. Fungsinya untuk mendeteksi dan pencegahan secara otomatis.
Panggilan Palsu
Dengan sistem ini, panggilan palsu yang mengatasnamakan lembaga resmi atau perseorangan dapat dihentikan sebelum sampai ke pengguna.
“Operator harus melindungi pelanggan mereka. Mereka diminta membangun infrastruktur dan teknologi anti scam agar panggilan penipuan, termasuk yang menggunakan nomor masking, tidak lagi menjangkau pengguna,” tandasnya.
Saat ini, lanjut Edwin, jumlah aktivasi nomor baru per hari pada operator seluler rata-rata mencapai 500 ribu hingga satu juta, kebocoran identitas NIK dan Nomor KK masih terjadi, sehingga membuka peluang penyalahgunaan identitas dalam skala besar untuk target aktivasi SIM card secara tidak sah.
“Setiap hari terdapat sedikitnya 500 ribu hingga satu juta nomor baru yang diaktivasi,” ungkapnya.
