Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya mendapatkan pembinaan serta pelatihan. Menurutnya, UMKM membutuhkan perlindungan konkret serta jaminan akses pasar agar mampu bertahan dan berkembang.
Ia menilai, tanpa dukungan nyata, penyebutan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional hanya akan menjadi slogan. “Kalau tulang punggung ini tidak dipelihara, tidak diberi ruang, dan tidak diserap, percuma hanya bicara,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis 19 Februari 2026.
Tantangan UMKM di Tengah Persaingan Impor
Samuel mengakui berbagai program pendampingan dari kementerian telah membantu meningkatkan kualitas produk UMKM. Namun, persoalan utama justru muncul pada tahap pemasaran, yakni bagaimana produk tersebut dapat terserap pasar secara optimal.
Menurutnya, tantangan UMKM semakin berat karena harus bersaing dengan produk impor yang dijual lebih murah dan diproduksi dalam skala besar. Jika sepenuhnya dilepas ke mekanisme pasar bebas, pelaku usaha kecil dinilai akan kesulitan mempertahankan usahanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keberpihakan konkret dari negara dan masyarakat. Penyerapan produk UMKM tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu kementerian atau pelaku usaha semata, melainkan perlu kolaborasi lintas sektor.
Program UMKM BISA Ekspor
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso melaporkan capaian positif program UMKM BISA Ekspor. Program tersebut dinilai berhasil membuka akses pasar internasional bagi pelaku usaha lokal.
Sepanjang 2025, sebanyak 1.217 pelaku usaha dari berbagai sektor telah mendapatkan fasilitas penjajakan bisnis. Nilai transaksi yang dibukukan melalui program tersebut mencapai USD 134,87 juta.
Meski demikian, Samuel menilai akses pasar domestik tetap harus diperkuat agar UMKM memiliki fondasi yang kokoh sebelum bersaing di pasar global. Perlindungan kebijakan, dukungan pembelian produk lokal, serta regulasi yang berpihak menjadi kunci agar UMKM benar-benar menjadi pilar ekonomi nasional.
Dikutip dari RRI.co.id
