Harga minyak dunia naik tajam pada Senin, 2 Maret 2026, dipicu kekhawatiran meningkatnya gangguan pasokan global setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran.
Mengutip data Investing.com, harga minyak Brent berjangka melonjak 6,8 persen menjadi USD77,80 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik 5,7 persen menjadi USD70,85 per barel, mendekati level tertinggi sejak Juni tahun lalu.
Eskalasi Konflik Picu Lonjakan Harga
AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran selama akhir pekan. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke Israel dan sejumlah negara Timur Tengah yang memiliki hubungan dengan AS, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Presiden AS Donald Trump menyatakan aksi militer akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang dan memperingatkan potensi korban tambahan dari pihak Amerika.
Serangan ini menjadi operasi besar kedua AS terhadap Iran sejak pertengahan 2025, menyusul serangan terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada Juni 2025. Ketegangan meningkat setelah negosiasi antara Teheran dan Washington berakhir tanpa kesepakatan.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Ahli strategi energi global di Macquarie Group, Vikas Dwivedi, menyatakan durasi konflik menjadi faktor kunci bagi pasar energi.
“Kami percaya masuk akal untuk mengharapkan penghentian arus melalui Selat Hormuz selama konflik skala besar. Dengan demikian, durasi konflik tetap menjadi pertimbangan terpenting bagi pasar energi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa skenario konflik singkat berpotensi membatasi gangguan pasokan, tetapi jika mengarah pada perubahan rezim atau keterlibatan militer lebih luas, risiko eskalasi terhadap target energi global akan meningkat signifikan.
OPEC+ Sepakat Tingkatkan Produksi
Di tengah lonjakan harga, kelompok OPEC+ sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari dalam pertemuan hari Minggu.
Langkah ini menjadi peningkatan pertama sejak akhir 2025 dan bertujuan mengimbangi potensi gangguan pasokan akibat konflik. Sepanjang 2025, OPEC telah meningkatkan produksi sekitar 2,5 juta barel per hari sebelum sempat menghentikan kenaikan pada November.
Namun, efektivitas tambahan pasokan tersebut masih bergantung pada implementasi oleh negara anggota dan stabilitas jalur distribusi global.
Pasar Tetap Waspada
Meski kenaikan produksi OPEC+ dapat membatasi lonjakan harga, risiko gangguan pengiriman dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor dominan.
Selama konflik AS-Iran masih berlangsung dan potensi gangguan di Selat Hormuz belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Dikutip dari metrotvnews.com
