Indeks saham AS S&P 500 mencatat kerugian harian keempat berturut-turut pada Rabu, 31 Desember 2025. Meski demikian, indeks acuan Wall Street tersebut tetap mengakhiri tahun dengan kenaikan dua digit, didukung oleh sentimen bullish terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).
Mengutip Investing.com, Kamis, 1 Januari 2026, S&P 500 turun 0,7 persen pada perdagangan terakhir tahun ini, namun masih berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 16,7 persen. Nasdaq 100 melemah 0,8 persen, sementara Dow Jones Industrial Average turun 303 poin atau 0,6 persen.
Saham Semikonduktor Pimpin Penurunan Pasar
Sektor semikonduktor memimpin pelemahan pasar secara keseluruhan. Saham Western Digital Corporation, Micron Technology Inc, dan KLA Corporation tercatat mengalami penurunan terbesar, seiring investor melakukan aksi ambil untung pada saham pembuat chip yang telah mencetak kenaikan tiga digit sepanjang 2025.
Kenaikan tipis saham Nvidia tidak cukup untuk mengimbangi pelemahan sektor secara keseluruhan. Namun, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) justru bergerak berlawanan arah pasar setelah Reuters melaporkan bahwa Nvidia mendekati TSMC untuk membantu mempercepat produksi chip kecerdasan buatan H200.
ETF iShares Semiconductor tercatat mengakhiri tahun dengan kenaikan hampir 40 persen. Meski demikian, pelemahan sektor pada hari tersebut terjadi di tengah volume perdagangan yang relatif rendah, karena banyak investor telah mengurangi aktivitas menjelang libur akhir tahun. Pasar obligasi AS juga dijadwalkan tutup lebih awal pada Rabu.
Risalah The Fed Tekan Sentimen Investor
Sentimen investor turut tertekan oleh risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan Desember yang dirilis pada Selasa. Risalah tersebut mengungkapkan perbedaan pandangan yang cukup tajam di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga pada 2026.
Meski The Fed memangkas suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada rapat tersebut, sejumlah pejabat menunjukkan kehati-hatian terhadap pelonggaran lebih lanjut. Mereka menyoroti tekanan inflasi yang masih bertahan serta ketidakpastian prospek ekonomi. Di sisi lain, beberapa pejabat memperingatkan bahwa kebijakan yang terlalu ketat berisiko menekan pertumbuhan ekonomi jika dipertahankan terlalu lama.
Optimisme Reli Santa Claus Memudar
Investor memasuki akhir Desember dengan harapan terjadinya reli Santa Claus, yakni periode yang secara historis sering membawa penguatan pasar pada hari-hari terakhir tahun dan awal Januari. Namun, ekspektasi tersebut memudar karena pasar justru bergerak melemah.
Analis Fairlead Strategies, Katie Stockton, menyebut pelemahan menjelang akhir tahun menunjukkan bahwa reli Santa Claus kemungkinan telah terjadi lebih awal. Menurut para analis, kepemimpinan pasar yang sempit serta aksi ambil untung setelah kinerja kuat sepanjang 2025 turut meredam optimisme musiman.
Dengan minimnya rilis data ekonomi pada pekan yang dipersingkat oleh libur, pergerakan pasar saham lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal, ekspektasi kebijakan moneter, serta penyesuaian portofolio akhir tahun oleh investor.
Dikutip dari metrotvnews.com
