Perdagangan Pagi, Rupiah Terapresiasi ke Posisi Rp16.736

Perdagangan Pagi, Rupiah Terapresiasi ke Posisi Rp16.736

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 09.41 WIB rupiah berada di level Rp16.736 per USD, menguat 32 poin atau setara 0,19 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.768 per USD.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, pada waktu yang sama rupiah tercatat berada di level Rp16.796 per USD. Perbedaan data tersebut mencerminkan dinamika transaksi yang masih berlangsung di pasar valuta asing.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada hari ini akan cenderung fluktuatif. Meski menguat di awal perdagangan, rupiah diperkirakan berpotensi kembali melemah hingga penutupan pasar.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.760 per USD hingga Rp16.790 per USD,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, sentimen pasar saat ini tertuju pada hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve AS yang berlangsung selama dua hari dan dijadwalkan berakhir pada Rabu. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya setelah sebelumnya memangkas suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut.

Selain itu, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell kembali menjadi perhatian pasar, karena memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS dari tekanan politik.

Kekhawatiran lain datang dari potensi penutupan pemerintahan AS (government shutdown). Anggota Senat dari Partai Demokrat berjanji memblokir rancangan undang-undang pendanaan besar, sementara tenggat waktu pengesahan jatuh pada 30 Januari 2026. Data pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang shutdown melonjak dari sekitar 8 persen menjadi hampir 78 persen dalam beberapa hari terakhir.

Dari sisi geopolitik dan perdagangan global, pasar juga mencermati sikap agresif Presiden Trump terkait tarif perdagangan. AS dikabarkan menarik kembali ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa, namun justru meningkatkan tekanan terhadap sekutu seperti Kanada dan Korea Selatan. Trump bahkan mengancam tarif hingga 100 persen terhadap Kanada dan kenaikan tarif 25 persen untuk produk asal Korea Selatan.

“Pasar tetap waspada terhadap langkah-langkah lanjutan Trump. Ketegangan geopolitik di Iran dan Timur Tengah, seiring kehadiran kapal-kapal militer AS, turut menambah kehati-hatian investor,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, tantangan pembiayaan utang pemerintah pada 2026 juga menjadi perhatian pasar. Pemerintah diperkirakan membutuhkan pembiayaan utang bruto hingga Rp1.650 triliun, meski target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp832,21 triliun.

Risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) dinilai meningkat seiring memendeknya rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM), dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi sekitar 7,7 tahun pada 2026. Selain itu, sikap wait and see investor asing terhadap kebijakan fiskal Indonesia turut menambah tekanan terhadap stabilitas rupiah.

Dikutip dari metrotvnews.com