Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, seiring penguatan dolar AS di pasar global. Data Bloomberg mencatat rupiah berada di level sekitar Rp16.832 per USD pada awal perdagangan, melemah sekitar 0,20 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Pergerakan rupiah cenderung fluktuatif dan melemah dipengaruhi oleh berbagai sentimen global, terutama kebijakan moneter AS dan kondisi ekonomi makro Amerika Serikat yang kuat. Sentimen tersebut mendorong dolar AS lebih menarik bagi investor, sehingga memberi tekanan pada mata uang Garuda. Selain itu, pasar juga sedang menunggu data tenaga kerja penting AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, sehingga pelaku pasar mempertahankan sikap berhati‑hati.
Sentimen Eksternal dan Kebijakan Moneter
Analis pasar uang memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Hal ini tak lepas dari perbedaan pandangan pejabat Federal Reserve AS mengenai arah suku bunga pada 2026, serta ketidakpastian terkait langkah The Fed ke depan. Faktor ini turut memengaruhi arus modal global dan tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Geopolitik, seperti eskalasi konflik dan risiko global lainnya, juga turut memberi tekanan pada pasar valuta.
Prospek Pergerakan Rupiah
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati data prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Meskipun sejumlah lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan di kisaran sekitar lima persen, pemerintah Indonesia optimis pertumbuhan dapat mencapai sekitar enam persen, didukung oleh konsumsi domestik dan stabilitas sektor keuangan. Proyeksi ini menjadi faktor fundamental yang diperhatikan pasar dalam jangka menengah.
Dikutip dari metrotvnews.com
