Rupiah Catat Apresiasi Terbatas ke Rp16.827 per Dolar AS

Rupiah Catat Apresiasi Terbatas ke Rp16.827 per Dolar AS

Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 16 Februari 2026. Penguatan ini terjadi di tengah tekanan terhadap dolar AS setelah data inflasi Negeri Paman Sam dirilis lebih rendah dari perkiraan pasar.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp16.827 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik sembilan poin atau setara 0,05 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.836 per USD.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah tercatat di level Rp16.839 per USD. Angka tersebut menunjukkan pelemahan tipis dibandingkan pembukaan perdagangan di Rp16.835 per USD.

Data Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman, menyatakan penguatan rupiah terjadi seiring inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Data inflasi AS menunjukkan kenaikan 0,2 persen secara bulanan (month to month/mom), lebih rendah dari perkiraan 0,3 persen. Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi turun dari 2,7 persen menjadi 2,4 persen, lebih rendah dari proyeksi 2,5 persen.

Menurut Lukman, penurunan inflasi AS dipengaruhi dampak tarif yang mulai memudar, sehingga tekanan harga berangsur mereda.

Penguatan Rupiah Diperkirakan Terbatas

Meski demikian, penguatan rupiah diprediksi terbatas di kisaran Rp16.750–Rp16.900 per dolar AS. Sentimen domestik dinilai masih cenderung negatif.

Beberapa faktor yang membayangi pergerakan rupiah antara lain isu penurunan peringkat kredit, tuntutan peningkatan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), defisit anggaran, serta prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).

Di sisi lain, pelemahan dolar AS juga dinilai tidak terlalu signifikan karena data tenaga kerja AS, khususnya Non-Farm Payrolls (NFP), sebelumnya menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini masih menopang kekuatan dolar di pasar global.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek.

Dikutip dari metrotvnews.com