Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Mata uang Garuda tercatat turun tipis di tengah tekanan sentimen global yang dipicu oleh meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Mengutip data Bloomberg pada Kamis, 4 Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.896 per dolar AS. Posisi tersebut melemah empat poin atau sekitar 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.892 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp16.906 per dolar AS pada waktu yang sama. Nilai tersebut juga lebih rendah dibandingkan posisi pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di Rp16.865 per dolar AS.
Rupiah Diperkirakan Masih Melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan fluktuatif namun cenderung ditutup melemah. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.890 hingga Rp16.940 per dolar AS, bahkan berpotensi menembus level Rp17.000 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap pasokan energi global akibat konflik yang meluas di Timur Tengah.
Ketegangan tersebut dipicu oleh serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap militer Iran pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi kemudian semakin memanas setelah AS dan Israel kembali melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah fasilitas yang berkaitan dengan Iran pada Selasa.
Sebagai respons, Iran meningkatkan pengerahan kekuatan militernya di kawasan Teluk serta mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran internasional.
Teheran juga dilaporkan menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi rute sekitar seperlima pengiriman minyak global.
Otoritas Iran bahkan memperingatkan akan menyerang kapal apa pun yang melintas di wilayah tersebut. Ancaman terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting ekspor minyak dari negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, memicu lonjakan premi risiko geopolitik pada harga minyak dunia.
Selain itu, laporan menyebutkan Irak mulai menghentikan produksi di ladang minyak Rumaila—ladang minyak terbesar di negara tersebut—serta di West Qurna 2. Total produksi yang dihentikan diperkirakan mencapai 1,2 juta barel per hari.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap memberikan pengawalan terhadap kapal-kapal komersial apabila diperlukan guna menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Ia juga menjanjikan dukungan penuh pemerintah untuk memastikan jalur distribusi energi global tetap aman.
Ibrahim menilai meskipun eskalasi konflik militer mendorong kenaikan harga minyak, upaya internasional untuk menjaga keamanan jalur pelayaran berpotensi meredam lonjakan harga lebih lanjut dalam waktu dekat.
Dikutip dari metrotvnews.com
