Rupiah Terkoreksi ke Rp16.835 per Dolar AS di Awal Perdagangan

Rupiah Terkoreksi ke Rp16.835 per Dolar AS di Awal Perdagangan

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 24 Februari 2026, tercatat melemah. Pelemahan terjadi meski pada saat yang sama dolar AS juga masih berada dalam tekanan di pasar global.

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp16.835 per dolar AS atau melemah 33 poin setara 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.802 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp16.813 per dolar AS. Posisi tersebut juga menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.790 per dolar AS. Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini tercatat fluktuatif dengan kecenderungan menguat.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Namun, ia memperkirakan mata uang Garuda berpotensi ditutup menguat di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih menjadi faktor penopang pergerakan rupiah. Pasar saat ini mencermati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis mendatang. Situasi tersebut meningkatkan harapan meredanya ketegangan geopolitik.

Ia menilai pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut adanya peluang baik untuk mencapai solusi diplomatik antara kedua negara, ditafsirkan pasar sebagai sinyal kompromi.

Di sisi lain, sentimen juga datang dari Presiden AS Donald Trump yang berencana mengenakan tarif 10 persen terhadap impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS. Kebijakan tersebut muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.

Dari dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Januari 2026. Kementerian Keuangan melaporkan APBN mencatat defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, realisasi belanja negara hingga Januari 2026 mencapai Rp227,3 triliun atau sekitar 5,9 persen dari target belanja negara tahun ini yang sebesar Rp3.842,7 triliun.

Ibrahim menilai kondisi tersebut masih dalam batas aman.

“Artinya, belanja negara masih lebih besar dibandingkan pendapatan negara sehingga terjadi defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen dari PDB. Namun angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” ujarnya.

Dikutip dari metrotvnews.com