Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (3/12/2025). Mata uang Garuda belum mampu memanfaatkan tekanan yang tengah dialami dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp16.638 per USD, melemah 13 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.625 per USD. Sementara itu, menurut data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah berada di Rp16.627 per USD dan terpantau bergerak stagnan dengan kecenderungan melemah.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan berlangsung fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.620–Rp16.640 per dolar AS.
Ibrahim menjelaskan pelemahan rupiah turut dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve yang diproyeksikan melanjutkan pelonggaran suku bunga. Hal ini sejalan dengan data CME FedWatch Tool yang menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada Desember mencapai 87,4 persen.
Selain itu, dinamika politik di AS juga memberikan tekanan tambahan pada pasar valuta asing. Penasihat Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, disebut menjadi kandidat kuat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan belum akan mengumumkan keputusan resminya dalam waktu dekat.
Dari sisi data ekonomi, Institute for Supply Management (ISM) mencatat aktivitas manufaktur AS pada November kembali mengalami kontraksi untuk bulan kesembilan berturut-turut. Meski demikian, harga input meningkat dan pasar tenaga kerja tetap menunjukkan tingkat pemecatan yang rendah.
Di sisi domestik, rupiah turut dipengaruhi data inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik 0,17 persen secara bulanan pada November 2025, lebih rendah dari 0,28 persen pada Oktober. Secara tahunan, inflasi turun menjadi 2,72 persen, sementara inflasi year to date tercatat 2,27 persen. Inflasi inti naik 0,17 persen dan menyumbang 0,11 persen terhadap inflasi nasional.
Dikutip dari metrotvnews.com
