Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Selasa, 7 April 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Selat Hormuz. Investor tetap berhati-hati menjelang tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut.
Pakistan diketahui meminta Trump untuk memperpanjang tenggat waktu selama dua pekan serta menyerukan semua pihak yang terlibat konflik agar mematuhi gencatan senjata selama periode tersebut.
Permintaan ini muncul setelah pernyataan keras Trump sebelumnya yang menyebut seluruh “peradaban” Iran dapat “mati malam ini” jika Teheran tidak mencapai kesepakatan damai.
Mengutip Investing.com pada Rabu, 8 April 2026, indeks dolar AS yang melacak pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya tercatat turun 0,2 persen ke level 99,86.
Ancaman Trump terhadap Iran
Trump melalui platform Truth Social miliknya kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi,” tulis Trump.
Sehari sebelumnya, Trump juga menegaskan ancamannya untuk menyerang jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika negara tersebut tidak menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 20.00 waktu setempat.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jalur ini dilaporkan telah ditutup secara efektif oleh Iran selama beberapa pekan terakhir.
Laporan Reuters menyebutkan Iran menolak melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat jika negara itu diminta untuk “menyerah di bawah tekanan.”
Iran juga memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energinya dapat memicu dampak luas di kawasan. Menurut laporan Reuters, Iran menyampaikan pesan melalui Qatar bahwa jika pembangkit listriknya diserang, wilayah Timur Tengah termasuk Arab Saudi dapat mengalami pemadaman listrik besar.
Media Iran Tasnim bahkan melaporkan bahwa Teheran siap menargetkan lebih banyak fasilitas minyak, termasuk milik Saudi Aramco, jika Amerika Serikat melaksanakan ancamannya menyerang infrastruktur energi Iran.
Euro, poundsterling, dan yen menguat
Pelemahan dolar AS memberikan ruang penguatan bagi beberapa mata uang utama lainnya. Euro dan poundsterling sempat mencatat kenaikan pada perdagangan Selasa.
Euro terhadap dolar AS (EUR/USD) naik sekitar 0,5 persen ke level 1,1600, sementara poundsterling terhadap dolar AS (GBP/USD) menguat 0,4 persen menjadi 1,3292 sebelum akhirnya kembali bergerak stabil.
Namun, data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas bisnis di Zona Euro mengalami perlambatan. Data dari S&P Global menunjukkan sektor swasta di kawasan tersebut mencatat ekspansi aktivitas bisnis paling lemah dalam sembilan bulan pada Maret.
Selain itu, laporan tersebut juga mencatat bahwa permintaan di kawasan tersebut memburuk untuk pertama kalinya sejak Juli tahun lalu.
Kepala ekonom bisnis S&P Global Market Intelligence Chris Williamson menyatakan bahwa ekonomi Zona Euro terdampak signifikan oleh konflik di Timur Tengah.
“PMI Maret menunjukkan bahwa ekonomi zona euro telah terpukul keras oleh perang di Timur Tengah. Tanda-tanda pertumbuhan yang terlihat di awal tahun memudar akibat lonjakan harga energi, gangguan rantai pasokan, volatilitas pasar keuangan, serta melemahnya permintaan,” ujarnya.
Sementara itu, yen Jepang juga menguat untuk sesi kedua berturut-turut terhadap dolar AS. Mata uang Jepang tersebut bergerak semakin menjauh dari level psikologis 160.
Data dari Kantor Kabinet Jepang menunjukkan Indeks Utama Jepang naik 0,3 poin pada Februari menjadi 112,4. Angka ini merupakan level tertinggi dalam 42 bulan dan sejalan dengan perkiraan pasar, meskipun dunia usaha masih memiliki prospek yang berhati-hati terhadap kondisi ekonomi ke depan.
