Warga Diimbau Waspada dan Menjauhi Tepi Sungai Akibat Banjir Lahar Semeru

Warga Diimbau Waspada dan Menjauhi Tepi Sungai Akibat Banjir Lahar Semeru

Hujan deras yang mengguyur puncak Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, memicu banjir lahar dingin yang berlangsung lebih dari tiga jam, sehingga menyebabkan peningkatan debit air di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) kawasan itu.

“Dalam pengamatan kegempaan selama enam jam terakhir, tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 45 mm dan lama gempa 12.000 detik,” ujar Liswanto, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam laporan tertulis, Minggu (21/12/2025).

Selain itu, tercatat 30 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 12–22 mm, tiga kali gempa guguran, serta satu kali harmonik. Pengamatan visual menunjukkan Gunung Semeru tertutup kabut 0–III, dengan cuaca cerah hingga berawan dan angin lemah ke arah selatan dan barat daya.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan hujan deras di puncak Semeru menyebabkan banjir lahar hujan, namun sejauh ini belum ada laporan kerusakan pada permukiman warga. “Debit air cukup deras, sehingga petugas mengimbau para penambang untuk menjauh dari DAS yang berhulu di Semeru,” katanya.

Gunung Semeru masih berada pada status Siaga Level IV. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak. Selain itu, masyarakat di luar zona itu diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan, dan tidak berada dalam radius lima km dari kawah puncak gunung untuk menghindari bahaya lontaran batu pijar.

PVMBG juga mengimbau warga untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai dari Besuk Kobokan.

Dikutip dari cnnindonesia.com