Ketegangan di Selat Hormuz dan Perdagangan Global Diperkirakan Meningkat pada 2027

Ketegangan di Selat Hormuz dan Perdagangan Global Diperkirakan Meningkat pada 2027

Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global dalam jangka pendek. Meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah diperkirakan mampu mendukung penguatan pasar saham, sekaligus mengurangi tekanan terhadap harga minyak dan imbal hasil obligasi.

Berdasarkan laporan BCA Research yang dikutip dari Investing.com pada Senin (22/6/2026), kesepakatan tersebut telah memperbaiki prospek pasar dalam jangka pendek, terutama karena berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan distribusi melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.

Penurunan risiko geopolitik juga diperkirakan dapat membantu menekan harga energi yang sebelumnya menjadi salah satu pemicu utama tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang politik yang lebih besar bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS tahun 2026, di tengah tantangan berupa tingginya harga bahan bakar dan menurunnya tingkat persetujuan publik.

Meski demikian, BCA Research menegaskan bahwa kesepakatan sementara tersebut belum dapat dianggap sebagai solusi permanen. Risiko implementasi masih cukup besar mengingat Iran dinilai memiliki kepentingan strategis untuk menunda sejumlah komitmen penting, termasuk terkait pembukaan penuh Selat Hormuz dan perkembangan program nuklirnya.

Karena itu, harga minyak diperkirakan masih akan bertahan pada level yang relatif tinggi meskipun pasar memberikan respons positif pada tahap awal. Saat ini, ekspektasi pasar mengarah pada harga minyak mentah di kisaran USD90 hingga USD100 per barel, lebih tinggi dibandingkan rentang USD60 hingga USD70 per barel yang pernah terjadi sebelumnya.

Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada dinamika politik domestik AS. BCA Research menilai Partai Demokrat memiliki peluang untuk merebut kembali kendali Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilu paruh waktu mendatang. Namun, persaingan untuk menguasai Senat diperkirakan tetap berlangsung ketat.

Apabila Kongres berada dalam kondisi terpecah, ruang gerak Presiden AS Donald Trump dalam menjalankan agenda legislatif berpotensi menjadi lebih terbatas. Situasi tersebut dapat mendorong pemerintah lebih banyak mengandalkan kebijakan eksekutif, kebijakan perdagangan, dan strategi politik luar negeri dalam menjalankan program pemerintahan.

Di sektor teknologi, prospek investasi pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan infrastruktur pendukungnya masih dinilai positif. Kebijakan pemerintah AS saat ini masih mendukung pengembangan teknologi AI, pembangunan pusat data, serta proyek-proyek energi yang berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan komputasi.

Namun demikian, BCA Research memperkirakan pengawasan politik terhadap sektor teknologi akan semakin meningkat seiring bertambah besarnya peran AI dalam perekonomian global.

Sementara itu, kebijakan perdagangan internasional saat ini dinilai memasuki fase yang lebih stabil menjelang pemilu AS, didukung oleh adanya gencatan dagang sementara antara Washington dan Beijing. Meski begitu, ketidakpastian diperkirakan kembali meningkat setelah pemilu paruh waktu berlangsung.

Para analis memperkirakan terdapat probabilitas sebesar 60 persen munculnya konflik baru yang melibatkan Iran pada akhir 2026 hingga sepanjang 2027. Selain risiko geopolitik di Timur Tengah, sengketa perdagangan global juga berpotensi kembali menjadi sumber utama volatilitas bagi pasar keuangan dunia dalam beberapa tahun mendatang.