Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada pembukaan perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026. Pergerakan rupiah terjadi ketika dolar AS cenderung stagnan di pasar global.
Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.861 per USD. Posisi tersebut menguat satu poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.862 per USD.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp17.851 per USD. Namun, posisi tersebut masih lebih lemah dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.830 per USD.
Rupiah Diproyeksikan Fluktuatif
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini dan berpeluang ditutup melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.860 hingga Rp17.920 per USD.
Salah satu sentimen utama yang menjadi perhatian pasar adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan pada Rabu siang.
Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April hingga Juni 2026.
Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, perkembangan inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir 2026.
Harga Minyak Jadi Sentimen Eksternal
Dari pasar global, pergerakan rupiah juga masih dibayangi kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah karena dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi.
Menurut Ibrahim, tingginya kebutuhan impor minyak mentah membuat pelaku usaha dan pemerintah harus mengeluarkan pembayaran dalam denominasi dolar AS. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
