Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, terus meluas. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Kristomei Sianturi bersama sejumlah pejabat turun langsung memantau kondisi melalui udara menggunakan helikopter.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk memetakan wilayah yang terdampak kebakaran. Dari udara, terlihat kepulan asap pekat menyelimuti hamparan hutan dan lahan gambut di sejumlah wilayah Sumatra Selatan.
Ketebalan kabut asap membuat jarak pandang berkurang secara signifikan. Sejumlah bangunan di kawasan perkotaan bahkan nyaris tidak terlihat dari udara.
Ratusan Ribu Kasus Gangguan Pernapasan
Dampak karhutla tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga memicu gangguan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 283.000 kasus gangguan pernapasan telah dilaporkan di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan karena jarak pandang berada di bawah batas aman. Di sejumlah wilayah terdampak, otoritas setempat bahkan meliburkan atau menutup sementara sekolah untuk melindungi siswa dari paparan udara yang tidak sehat.
Asap Karhutla Menyebar ke Malaysia dan Singapura
Persebaran kabut asap dari karhutla di Sumatra Selatan juga telah melintasi batas negara. Hembusan angin membawa partikel asap hingga menyelimuti wilayah udara negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura.
Otoritas terkait terus melakukan upaya pemadaman dan mitigasi untuk menekan laju kebakaran serta mengendalikan titik api yang masih aktif.
