Jakarta — World Gold Council (WGC) menyebut tahun 2025 sebagai periode yang sangat kuat bagi harga emas global, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga, dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Kepala Asia Pasifik (ex-China) dan Kepala Bank Sentral Global WGC, Shaokai Fan, mengatakan tren pembelian emas oleh bank sentral dunia terus meningkat signifikan dalam 15 tahun terakhir. “Tiga tahun terakhir pembelian emas mencapai 1.000 ton per tahun, jauh lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya sekitar 500 ton per tahun,” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Menurut Fan, kenaikan harga emas global sering kali dipicu oleh peristiwa besar yang mengguncang ekonomi dunia, seperti pandemi Covid-19 atau konflik Rusia–Ukraina. Dalam kondisi seperti itu, emas menjadi aset lindung nilai yang paling dicari investor global.
Ia menambahkan, harga emas di Indonesia masih memiliki selisih sekitar USD10 dibandingkan harga global, jauh lebih rendah dibanding Vietnam yang selisihnya mencapai USD600. Hal ini menunjukkan pasar emas domestik Indonesia cukup efisien dan stabil.
Analis Pasar Modal Wahyu Laksono dari Traderindo menilai bahwa emas fisik tetap menjadi aset penting bagi investor. “Meskipun harga emas tinggi, pembelian justru tetap dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang,” katanya.
Wahyu memperkirakan dalam jangka menengah, harga emas bisa mencapai USD4.400 hingga USD5.000 per troy ons pada 2026, seiring meningkatnya permintaan global dan pembelian masif oleh bank sentral.
Tren ini memperkuat posisi emas sebagai aset safe haven utama di tengah volatilitas ekonomi global dan perubahan arah kebijakan moneter dunia.Dikutip dari RRI.co.id
