Perjuangan Perempuan Penghayat dalam Mengungkap Identitas di Ruang Publik

Perjuangan Perempuan Penghayat dalam Mengungkap Identitas di Ruang Publik

Jakarta – Tokoh Perempuan Sapta Dharma, Dian Jennie, menyayangkan masih banyak perempuan penghayat kepercayaan yang belum mampu menunjukkan identitas serta jati dirinya di ruang publik. Ia menilai, kondisi ini terjadi karena kuatnya stigma dan peminggiran sosial yang masih melekat di masyarakat.

“Masih ada stigma, masih ada peminggiran di dalam ruang sosial. Mereka juga memiliki rasa kurang percaya diri karena kepercayaan itu belum dikenal atau dianggap oleh masyarakat yang bukan bagian dari penghayat kepercayaan,” ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat (14/11/2025).

Sebagai Pengurus Persatuan Sapta Dharma (PERSADA), Dian Jennie menyebut saat ini terdapat sekitar 1.500 perempuan penghayat Sapta Dharma di wilayah Surabaya. Menurutnya, peran perempuan di komunitas tersebut memiliki posisi yang cukup tinggi, bahkan lebih dominan dibandingkan laki-laki.

Perempuan Jadi Fondasi Pendidikan Karakter Anak

Dian menjelaskan, perempuan di Sapta Dharma memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan karakter anak. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa posisi perempuan dianggap lebih kuat.

“Perempuan menjadi basis utama bagi pendidikan karakter anak-anak. Karena itu, perempuan memiliki dominasi yang lebih tinggi daripada laki-laki,” tuturnya.

Ia menambahkan, sanggar anak-anak di lingkungan Sapta Dharma juga dikelola sepenuhnya oleh perempuan. Anak-anak usia 5–13 tahun mendapatkan pendidikan budi pekerti yang terstruktur dan berkesinambungan.

“Dikelola oleh perempuan, mulai dari mereka usia 5–13 tahun. Anak-anak itu mendapatkan pendidikan budi pekerti,” katanya.

Perempuan Penghayat Berperan sebagai Penjaga Tradisi

Senada dengan Dian, Tokoh Perempuan Budi Daya, Rela Susanti, menegaskan bahwa perempuan di komunitasnya memiliki peran penting sebagai penjaga sekaligus pewaris ajaran tradisi.

“Perempuan harus bisa menurunkan atau mentransformasikan ajaran kami ke anak-anak, sehingga proses regenerasi bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Rela juga menilai gaya kepemimpinan perempuan cenderung lebih mengedepankan empati. Menurutnya, hal ini menjadi unsur penting dalam menjaga keseimbangan komunitas. Sementara itu, kepemimpinan laki-laki dianggap lebih statis dan kurang fleksibel. Dikutip dari RRI.co.id.