BRIN: Tangsel Terancam Penurunan Kualitas Air

BRIN: Tangsel Terancam Penurunan Kualitas Air

Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menghadapi ancaman serius berupa penurunan muka air tanah, land subsidence, dan kualitas air, menurut Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Nur Hidayat.

Nur menjelaskan, pertumbuhan pesat Tangsel membuat pengendalian penggunaan air tanah menjadi sangat penting. Ketiga ancaman tersebut saling terkait dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor jika tidak ditangani.

Untuk mengantisipasi bencana, BRIN memperkenalkan sejumlah inovasi teknologi. Tahap pra-bencana mencakup pemetaan akuifer menggunakan Drone GPR dan Resistivity, sehingga dapat diketahui keberadaan, jenis, dan kapasitas air tanah, termasuk area yang bisa difungsikan sebagai resapan.

Selain itu, teknologi INSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) digunakan untuk memantau deformasi permukaan tanah dan potensi longsor. BRIN juga menawarkan sistem peringatan dini, yaitu Flood Early Warning System (FEWS) untuk banjir dan Landslide Early Warning System (LEWS) untuk longsor.

BRIN menghadirkan inovasi Biopos, sumur resapan mandiri berbahan dobel peralon yang mudah dibuat, murah, dan awet. Biopos berfungsi sebagai media komposter sekaligus resapan air di pekarangan, carport, atau lahan sempit lainnya. Teknologi ini telah diterapkan di kawasan Sinarmas Land Tangsel dan proyek Gedung BRI di Jakarta Selatan bekerja sama dengan PT PP.

Selain itu, BRIN menawarkan teknologi penampungan banjir bawah tanah yang kemudian diinjeksikan ke dalam akuifer dalam, serta saluran drainase multifungsi untuk pengumpul sedimen dan resapan dangkal.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tangsel, Essa Nugraha, menyebut kegiatan ini bertujuan meningkatkan koordinasi dan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, sekaligus mendorong mitigasi berbasis teknologi.

Dikutip dari RRI.co.id