Gagalnya Perdamaian Ukraina Dorong Kenaikan Harga Minyak 2 Persen

Gagalnya Perdamaian Ukraina Dorong Kenaikan Harga Minyak 2 Persen

Harga minyak dunia menguat dalam perdagangan Eropa pada Senin, 29 Desember 2025, setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh kegagalan pembicaraan yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Ukraina menghasilkan terobosan, meskipun penguatan harga masih dibatasi oleh kekhawatiran surplus pasokan global hingga 2026.

Mengutip Investing.com, Selasa (30/12/2025), kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Februari naik 1,8 persen menjadi USD61,34 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar dua persen ke level USD57,88 per barel.

Sebelumnya, kedua kontrak tersebut sempat terkoreksi lebih dari 2,5 persen pada perdagangan Jumat, sehingga menghapus sebagian besar kenaikan yang dicatat sepanjang pekan.

Pemulihan harga minyak terjadi setelah harapan pasar terhadap kemajuan perundingan damai Ukraina meredup. Pada Jumat, sentimen pasar sempat terguncang setelah pembicaraan diplomatik yang diperbarui memunculkan ekspektasi berakhirnya konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu menyatakan bahwa dirinya dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy “semakin dekat, mungkin sangat dekat” untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang. Namun demikian, kedua pemimpin juga mengakui masih adanya sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan.

Pernyataan Trump tersebut menyusul rangkaian upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat untuk menengahi gencatan senjata. Minimnya kemajuan konkret membuat para pelaku pasar menilai penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih belum pasti, sehingga menopang harga minyak pada awal pekan ini.

Kesepakatan perdamaian yang kredibel pada akhirnya berpotensi menekan harga minyak karena dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang pasar sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Di sisi lain, penguatan harga minyak juga diimbangi oleh kekhawatiran meningkatnya kelebihan pasokan global. Sejumlah lembaga peramalan dan analis memperingatkan bahwa pasokan minyak dunia berpotensi melampaui permintaan pada 2026, seiring peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC dan perlambatan pertumbuhan konsumsi.

Harga minyak turut mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Washington dilaporkan memperketat tekanan terhadap ekspor minyak mentah Venezuela, termasuk langkah-langkah yang menyasar pengiriman dan pembeli, sehingga berpotensi memperketat pasokan dari salah satu anggota OPEC tersebut.

dikutip dari metrotvnews.com