Harga emas dunia (XAU/USD) diperkirakan masih bergerak menguat pada perdagangan hari ini, meskipun sempat mengalami koreksi tipis pada sesi sebelumnya. Pada Selasa (13/1/2026), emas tercatat berada di level USD4.590 atau turun 0,15 persen setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di USD4.634.
Koreksi harga tersebut terjadi menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan tekanan harga masih relatif stabil. Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai pelemahan yang terjadi masih tergolong wajar dan belum mengubah arah tren utama pergerakan emas.
Berdasarkan analisis teknikal yang mengombinasikan pola candlestick dan indikator Moving Average, Andy menilai pergerakan harga emas saat ini masih mencerminkan tren penguatan atau bullish.
Ia menyebut struktur harga yang terbentuk menunjukkan dominasi minat beli, seiring sentimen global yang masih mendukung aset lindung nilai seperti emas.
Menurut Andy, selama harga emas mampu bertahan di atas area support terdekat, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka. Ia memproyeksikan jika tekanan bullish berlanjut, XAU/USD berpotensi menguat hingga mendekati level USD4.650 pada perdagangan hari ini.
Level tersebut dinilai sebagai target kenaikan terdekat yang relevan secara teknikal. Namun demikian, Andy juga mengingatkan potensi koreksi jangka pendek apabila terjadi aksi ambil untung di pasar.
Jika harga gagal melanjutkan penguatan, emas berpeluang terkoreksi menuju area support di sekitar USD4.565.
Dari sisi fundamental, harga emas kembali mendapatkan dukungan pada awal sesi Asia, Rabu (14/1/2026), dengan pergerakan naik ke kisaran USD4.600. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya keyakinan pelaku pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga AS.
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS menunjukkan inflasi inti hanya naik 0,2 persen secara bulanan, lebih rendah dari proyeksi 0,3 persen, dan tercatat stabil secara tahunan di level 2,6 persen.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah umumnya meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang dalam memegang aset tanpa imbal hasil.
Selain faktor suku bunga, ketidakpastian geopolitik global turut menjadi penopang harga emas, seiring meningkatnya ketegangan internasional dan risiko politik yang mendorong investor mencari aset aman.
Meski demikian, penguatan dolar AS masih menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan emas. Indeks dolar AS tercatat menguat ke level 99,15, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru turun ke sekitar 4,17 persen.
Pasar kini menantikan rilis data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Andy menegaskan, selama sentimen suku bunga dan risiko global tetap mendukung, pergerakan harga emas pada perdagangan hari ini masih cenderung positif dengan peluang mempertahankan tren bullish.
