Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026) mengalami pelemahan di tengah penguatan dolar AS akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp16.922 per dolar AS, melemah 50 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat di level Rp16.865 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin di Rp16.843 per dolar AS.
Rupiah Diproyeksikan Fluktuatif Melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Ia memproyeksikan mata uang Garuda bergerak di rentang Rp16.870 hingga Rp16.910 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh eskalasi perang udara antara AS dan Israel terhadap Iran yang meluas. Israel dilaporkan menyerang Lebanon, sementara Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz.
“Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya. Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” ujar Ibrahim.
Pernyataan Netanyahu dan Lonjakan Harga Minyak
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perang AS dan Israel melawan Iran mungkin membutuhkan waktu, namun tidak akan berlangsung bertahun-tahun.
Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang, sementara pasar terus memantau dampak meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah terhadap stabilitas global.
Fokus Pasar Tertuju ke The Fed dan Data Tenaga Kerja
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), termasuk Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, serta Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari.
Pernyataan yang cenderung agresif (hawkish) dari para pejabat The Fed berpotensi semakin memperkuat dolar AS.
Selain itu, fokus pasar pekan ini tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat, termasuk laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan Nonfarm Payrolls (NFP), yang akan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan moneter The Fed.
Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi AS masih relatif tinggi, sehingga pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Kondisi ini turut menambah tekanan terhadap rupiah di pasar keuangan domestik.
Dikutip dari metrotvnews.com
