Nilai Dolar AS Melemah di Hadapan Euro dan Poundsterling

Nilai Dolar AS Melemah di Hadapan Euro dan Poundsterling

Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), seiring meningkatnya harapan pasar terhadap potensi terobosan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Mengutip laporan Xinhua, indeks dolar—yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia—tercatat naik tipis 0,11 persen menjadi 98,157. Namun secara umum, pergerakan dolar masih berada dalam tekanan akibat sentimen geopolitik yang berkembang.

Pergerakan Mata Uang Global

Pada penutupan perdagangan di New York, sejumlah mata uang utama tercatat menguat terhadap dolar AS. Euro naik menjadi USD1,1731 dari sebelumnya USD1,1729, sementara poundsterling Inggris juga menguat ke level USD1,3589 dari USD1,3583.

Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 157,02 yen dari 156,49 yen pada sesi sebelumnya. Namun, terhadap franc Swiss, dolar justru melemah ke posisi 0,7811 dari 0,7819.

Dolar AS juga melemah terhadap dolar Kanada menjadi 1,3587 dari 1,3612, serta turun terhadap krona Swedia ke level 9,2172 dari sebelumnya 9,2354.

Sentimen Geopolitik Tekan Dolar

Pelemahan dolar AS dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap meredanya konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengajukan proposal perdamaian baru kepada mediator dari Pakistan. Meskipun detail proposal belum diungkapkan secara luas, kabar tersebut sempat mendorong optimisme pasar terhadap potensi de-eskalasi konflik.

Namun, harapan tersebut sedikit meredup setelah Presiden Donald Trump menyatakan keraguannya terhadap keseriusan Iran dalam mencapai kesepakatan.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump menyebut bahwa negosiasi masih berlangsung, namun hasil akhirnya belum dapat dipastikan.

Selain itu, laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa proposal terbaru Iran tidak lagi secara langsung menuntut penghentian blokade angkatan laut oleh AS, yang sebelumnya menjadi salah satu poin krusial dalam negosiasi.