Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, setelah laporan tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Sentimen pasar juga dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait gencatan senjata antara Washington dan Iran yang dinilai masih berlangsung meski terjadi bentrokan baru di Selat Hormuz.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 9 Mei 2026, indeks dolar AS tercatat turun 0,2 persen menjadi 97,91.
Data ketenagakerjaan AS menjadi perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan akhir pekan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah pekerjaan non-pertanian meningkat 115 ribu pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom sebesar 65 ribu.
Sementara itu, tingkat pengangguran AS tetap stabil di level 4,3 persen.
Meski data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang solid, pelaku pasar masih mencermati tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Kepala Ekonom RSM US, Joseph Brusuelas, menilai kondisi pasar tenaga kerja AS saat ini masih tergolong kuat dan stabil.
“Kokoh, mantap, dan stabil adalah deskripsi terbaik untuk pasar tenaga kerja Amerika saat ini,” ujar Brusuelas.
Ia menilai kondisi tersebut membuat Federal Reserve belum memiliki alasan kuat untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Sebelum data tenaga kerja dirilis, pelaku pasar sempat memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga guna mengantisipasi risiko inflasi akibat perang di Timur Tengah. Namun, ekspektasi tersebut mereda setelah laporan ketenagakerjaan diumumkan.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan konflik di Selat Hormuz. Jalur distribusi energi global tersebut masih menjadi pusat ketegangan antara AS dan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya menembak dan melumpuhkan dua kapal tanker minyak kosong berbendera Iran yang mencoba memasuki pelabuhan Iran di Teluk Oman. Ketegangan meningkat setelah militer AS sebelumnya mengklaim mencegat serangan Iran terhadap kapal perang Amerika di Selat Hormuz.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlaku.
Trump bahkan mengatakan bentrokan terbaru hanya merupakan “sentuhan ringan” dan memperingatkan Iran agar segera menyetujui kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan.
Sementara itu, mata uang poundsterling Inggris menjadi sorotan setelah hasil pemilu lokal di Inggris memicu spekulasi politik terhadap masa depan pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer.
Poundsterling tercatat naik 0,4 persen menjadi USD1,3624. Adapun euro menguat 0,5 persen menjadi USD1,1779.
Di pasar Asia, yen Jepang turut menguat tipis terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY tercatat turun 0,1 persen menjadi 156,68.
