Tekanan Belum Reda, Harga Minyak Diperkirakan Susut ke USD85 per Barel

Tekanan Belum Reda, Harga Minyak Diperkirakan Susut ke USD85 per Barel

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Sentimen bearish dinilai masih mendominasi pergerakan harga minyak, baik dari sisi teknikal maupun fundamental.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan pergerakan harga WTI pada timeframe daily menunjukkan tren penurunan yang semakin kuat, dengan potensi pelemahan lanjutan apabila level support penting berhasil ditembus.

Harga WTI Gagal Tembus Resistance

Secara teknikal, harga minyak WTI beberapa kali gagal menembus area resistance di sekitar swing high yang kini menjadi penghalang utama bagi penguatan harga.

“Kegagalan tersebut mencerminkan tekanan jual masih mendominasi pasar, sekaligus membatasi ruang penguatan dalam jangka pendek,” ujar Geraldo dalam analisis hariannya, Senin 25 Mei 2026.

Ia menjelaskan struktur pergerakan harga mulai membentuk pola bearish baru setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan sebelumnya dan kembali bergerak turun mengikuti tren utama.

Saat ini, level support penting berada di kisaran USD89,89 per barel. Jika level tersebut berhasil ditembus, maka harga minyak berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support berikutnya di sekitar USD85,11 per barel.

Indikator Stochastic Masih Mengarah Turun

Dari sisi indikator teknikal, stochastic juga menunjukkan sinyal bearish yang masih kuat. Pergerakan indikator yang terus mengarah turun menandakan momentum pelemahan belum mereda dan tekanan jual masih mendominasi pasar minyak.

“Dalam kondisi seperti ini, peluang terjadinya rebound cenderung terbatas, kecuali terdapat katalis signifikan yang mampu mengubah sentimen pasar secara keseluruhan,” kata Geraldo.

Perlambatan Permintaan Energi Tekan Harga Minyak

Selain faktor teknikal, tekanan terhadap harga minyak juga dipicu sentimen fundamental global. Kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan energi dunia menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga minyak mentah.

Ketika prospek pertumbuhan ekonomi global melemah, pasar memperkirakan konsumsi energi, termasuk minyak mentah, akan menurun. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penurunan permintaan di pasar global.

Di sisi lain, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak. Karena minyak diperdagangkan menggunakan dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi negara dengan mata uang lain sehingga berpotensi mengurangi permintaan global.

Pasar Cermati Kebijakan OPEC+

Pasar juga tengah mencermati potensi peningkatan suplai dari negara-negara produsen utama, termasuk kemungkinan perubahan kebijakan produksi dari OPEC+.

Jika pasokan minyak meningkat di tengah perlambatan permintaan global, maka ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan diperkirakan dapat memperbesar tekanan terhadap harga minyak mentah.

Selain itu, sentimen risk-off di pasar global membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset berbasis komoditas, termasuk minyak.

Dengan kombinasi tekanan teknikal dan fundamental tersebut, harga minyak WTI diperkirakan masih bergerak dalam tren bearish selama belum mampu menembus area resistance kunci.

Investor pun disarankan untuk terus mencermati perkembangan ekonomi global, pergerakan dolar AS, dan kebijakan produksi minyak sebagai faktor utama penentu arah harga minyak dalam jangka pendek.