Dolar AS Melemah hingga Menyentuh Level Terendah

Dolar AS Melemah hingga Menyentuh Level Terendah

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah dalam 10 hari terakhir terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Pelemahan ini dipicu meningkatnya optimisme pasar setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kerangka kerja perdamaian yang berpotensi mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah.

Mengutip data Investing.com, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk euro dan yen Jepang, turun 0,31 persen ke level 99,492. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak 5 Juni 2026.

Pelemahan dolar mendorong penguatan sejumlah mata uang utama. Euro naik 0,35 persen ke level USD1,1607, sementara poundsterling menguat 0,3 persen menjadi USD1,3448.

Mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko juga mencatatkan penguatan. Dolar Australia naik 0,50 persen ke level USD0,7075, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,4 persen menjadi USD0,5854.

Di sisi lain, yen Jepang melemah hingga menyentuh level 160,150 per dolar AS dan masih bergerak di sekitar level psikologis 160 yang selama ini dianggap sebagai batas toleransi pemerintah Jepang sebelum melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Sentimen positif pasar dipicu oleh pernyataan pejabat Amerika Serikat dan Iran yang menyebut kedua negara telah menyepakati kerangka kerja untuk mengakhiri konflik, menghentikan blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat turun lebih dari 4 persen ke level USD83,82 per barel seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa apabila Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan Amerika Serikat, opsi tindakan militer terhadap Teheran tetap terbuka.

Trump juga menyampaikan kemungkinan Amerika Serikat mengambil peran sebagai “penjaga Timur Tengah” dengan imbalan sebagian pendapatan kawasan, sebuah pernyataan yang masih memunculkan ketidakpastian di pasar.

Kepala Strategi Pasar ATFX Global Sydney, Nick Twidale, memperkirakan dolar AS masih berpotensi mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

“Saya pikir kita akan melihat dolar melemah dalam beberapa sesi ke depan. Kita mungkin akan melihat beberapa mata uang berisiko seperti dolar Australia sedikit menguat. Tetapi saya rasa kita tidak akan melihat pergerakan besar,” ujar Twidale.

Menurutnya, pasar masih akan menunggu perkembangan lebih lanjut terkait implementasi kesepakatan tersebut, terutama mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan normalisasi arus distribusi minyak global.

“Akan ada banyak waktu untuk menunggu dan melihat seberapa cepat selat itu benar-benar dibuka kembali dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar aliran minyak kembali normal. Ini pasti akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu,” tambahnya.

Dengan meredanya ketegangan geopolitik dan menurunnya harga minyak, investor mulai meningkatkan minat terhadap aset berisiko. Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap dolar AS yang sebelumnya mendapat dukungan kuat dari permintaan aset safe haven selama periode ketidakpastian global.