Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan harga ayam dan telur di tingkat peternak mulai menunjukkan tren kenaikan setelah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan usai libur sekolah 2026. Meningkatnya permintaan dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap pendapatan peternak unggas di berbagai daerah.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut turut mendorong peningkatan konsumsi produk peternakan di dalam negeri.
“Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik,” ujar Ketut, dikutip dari Antara, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, harga ayam hidup (broiler) di tingkat peternak yang sebelumnya sempat mengalami tekanan kini mulai bergerak mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan data Bapanas, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak per 14 Juli 2026 mencapai Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup. Angka tersebut meningkat 4,11 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di level Rp20.878 per kg.
Meski begitu, perbedaan harga masih terjadi di sejumlah wilayah. Di Sumatera Selatan, harga ayam broiler tercatat sekitar Rp18.125 per kg, sedangkan di Riau mencapai Rp25.600 per kg atau telah melampaui HAP tingkat produsen sebesar Rp25.000 per kg.
Harga Telur Ayam Ras Ikut Menguat
Kenaikan harga juga mulai terjadi pada komoditas telur ayam ras. Per 14 Juli 2026, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat peternak secara nasional mencapai Rp22.644 per kg, naik 0,66 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level Rp22.495 per kg.
Bapanas mencatat harga telur ayam ras terendah berada di Provinsi Banten sebesar Rp20.300 per kg, sedangkan harga tertinggi tercatat di Sulawesi Utara mencapai Rp28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat produsen ditetapkan sebesar Rp26.500 per kg.
Ketut mengatakan harga telur di tingkat peternak saat ini sudah mulai bergerak di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per kg dan diperkirakan masih berpotensi meningkat.
“Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp20 ribu sampai Rp21 ribu per kg, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan,” katanya.
Permintaan Meningkat Setelah MBG Kembali Berjalan
Ketut menjelaskan, sebelumnya harga ayam dan telur sempat mengalami penurunan akibat melemahnya permintaan masyarakat. Selain karena libur sekolah, berkurangnya aktivitas masyarakat selama bulan Suro juga berdampak pada menurunnya konsumsi produk unggas.
“Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya terhenti. Permintaan ayam relatif menurun sehingga harga terkoreksi,” ujar Ketut.
Ia optimistis kondisi pasar akan semakin membaik seiring dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis serta normalnya aktivitas masyarakat.
“Tapi sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) akan terus menyerap hasil produksi peternak unggas melalui pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Selain memperkuat penyerapan produksi, pemerintah bersama Satgas Pangan Polri juga terus melakukan pengawasan terhadap implementasi Harga Acuan Pembelian (HAP) di berbagai daerah.
Amran menegaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang untuk memastikan penyerapan telur dari peternak berlangsung secara berkelanjutan sehingga mampu membantu pemulihan harga di tingkat produsen.
