Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin (12/10/2026). Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di zona hijau pada level 6.109,319 atau naik 15,56 poin setara 0,26 persen.
Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat sebesar 1,58 poin atau 0,26 persen ke posisi 603,25.
Mengacu pada data RTI hingga pukul 09.20 WIB, IHSG melanjutkan penguatan sebesar 18,839 poin atau 0,31 persen ke level 6.112,598. Sepanjang perdagangan pagi, indeks bergerak pada rentang tertinggi 6.128 dan terendah 6.081.
Sebanyak 314 saham tercatat menguat, sedangkan 239 saham melemah dan 202 saham lainnya stagnan. Total transaksi sementara mencapai Rp1,385 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 7,173 miliar saham. Adapun kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.758,847 triliun.
IHSG Diperkirakan Bergerak Mixed
Riset harian FAC Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak cenderung mixed dengan peluang penguatan terbatas. Proyeksi tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor domestik dan global yang memengaruhi pergerakan pasar saham.
Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), IHSG ditutup menguat 62,48 poin atau 1,04 persen ke level 6.093,76. Penguatan tersebut didorong oleh technical rebound setelah tekanan jual sebelumnya, penguatan nilai tukar rupiah, serta membaiknya sentimen pasar saham Asia.
Kenaikan harga emas turut menopang saham-saham terkait komoditas. Selain itu, penurunan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4 basis poin menjadi 5,23 persen membantu mengurangi tekanan terhadap pasar saham negara berkembang.
Aksi beli yang meluas ke hampir seluruh sektor juga mencerminkan perbaikan minat investor terhadap aset berisiko di pasar domestik.
Wall Street Menguat, Investor Cermati Inflasi AS
Dari pasar global, bursa saham Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,59 persen, dan Nasdaq bertambah 0,64 persen.
Penguatan tersebut ditopang oleh pemulihan saham teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), penurunan harga minyak, serta meredanya kekhawatiran geopolitik terkait Iran.
Penurunan harga minyak turut mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik dan berbagai indikator ekonomi yang dapat memengaruhi arah pasar ke depan.
Investor juga mulai mengantisipasi musim publikasi laporan keuangan emiten kuartal III-2026 serta rilis data inflasi Amerika Serikat pada pekan berikutnya. Kedua agenda tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai prospek laba perusahaan dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.
FAC Sekuritas menyebutkan bahwa pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh beragam sentimen tersebut, dengan peluang penguatan yang relatif terbatas.
Pelaku pasar juga perlu mencermati perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pergerakan imbal hasil US Treasury, data inflasi AS, serta prospek kebijakan suku bunga The Fed yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan saham domestik.
