Tekanan Pasar Global, Rupiah Anjlok ke Rp16.750 per Dolar AS

Tekanan Pasar Global, Rupiah Anjlok ke Rp16.750 per Dolar AS

Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Pasar Cermati Inflasi AS dan Risiko Fiskal Domestik

Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,16 persen atau 27 poin ke level Rp16.750 per dolar AS, Jumat (19/12/2025).

Pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS yang tetap kuat, seiring perkembangan data inflasi di Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen (IHK) baik inflasi umum maupun inflasi inti di AS tercatat mengalami penurunan.

Sentimen Inflasi AS dan Kebijakan The Fed

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut, penurunan inflasi AS tersebut memicu meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Namun, para ekonom mengingatkan bahwa penutupan sebagian pemerintah AS selama 43 hari telah mendistorsi sejumlah data yang digunakan dalam rilis inflasi tersebut.

“Pelaku pasar juga menanggapi data ini dengan skeptis karena data ketenagakerjaan AS masih cukup solid,” ujar Ibrahim.

Ke depan, fokus pasar tertuju pada rilis indikator inflasi favorit The Fed, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), serta data Indeks Sentimen Konsumen yang dirilis Universitas Michigan.

Faktor Geopolitik Global

Dari sisi geopolitik, pasar turut mencermati rencana pertemuan pejabat Amerika Serikat dan Rusia yang akan digelar akhir pekan ini. Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina hampir mencapai titik terang.

Meski demikian, analis menilai langkah yang menargetkan sektor minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko gangguan pasokan global.

“Risikonya bahkan lebih besar bagi pasar dibandingkan potensi blokade kapal tanker Venezuela oleh Trump,” kata Ibrahim.

Peringatan Bank Dunia soal Fiskal Indonesia

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen fiskal. Pasar mencermati peringatan Bank Dunia terkait kondisi kesehatan fiskal Indonesia.

Bank Dunia memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia akan melebar secara konsisten hingga mendekati batas psikologis 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2027.

Defisit tersebut terjadi seiring dengan penurunan rasio pendapatan negara dan meningkatnya beban utang pemerintah. Bank Dunia mencatat rasio pendapatan Indonesia terhadap PDB diproyeksikan turun dari 13,5 persen pada 2022 menjadi 11,6 persen pada 2025, sebelum sedikit membaik ke level 11,8 persen pada 2026.

Sementara itu, rasio utang Pemerintah Pusat diperkirakan terus meningkat dalam tiga tahun ke depan, dari 39,8 persen terhadap PDB pada 2024 menjadi 40,5 persen pada 2025, dan naik lagi ke 41,1 persen pada 2026.

Dikutip dari RRI.co.id