Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (6/1/2026) setelah operasi Amerika Serikat (AS) untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro memicu ketidakpastian mengenai masa depan cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Pasar menilai potensi dampak intervensi tersebut terhadap pasokan minyak global di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan.
Mengutip Yahoo Finance, Selasa (6/1/2026), harga minyak mentah Brent berjangka turun 1,4 persen menjadi USD59,88 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,5 persen ke level USD56,43 per barel.
Secara produksi, Venezuela saat ini menyumbang kurang dari satu persen pasokan minyak global, dengan ekspor yang masih dibatasi oleh sanksi AS serta blokade angkatan laut. Namun demikian, negara tersebut memiliki sekitar 17 persen dari total cadangan minyak mentah terbukti dunia, menurut Badan Informasi Energi AS, sehingga berpotensi meningkatkan pasokan global apabila produksi dan ekspor kembali pulih.
Para pedagang kini menimbang bagaimana intervensi AS di Venezuela akan memengaruhi pasar minyak, terutama di saat sejumlah analis memperingatkan potensi kelebihan pasokan minyak mentah secara global.
Stephen Innes dari SPI Asset Management mengatakan harga minyak sempat bergejolak sebelum akhirnya stabil, seiring pelaku pasar mempertimbangkan dua kekuatan berlawanan akibat langkah Washington di Venezuela. “Di satu sisi, ketidakstabilan geopolitik di Amerika Latin mendorong premi risiko. Namun di sisi lain, prospek kembalinya cadangan minyak Venezuela yang sangat besar ke pasar memberikan tekanan sebaliknya,” ujarnya.
Senada, analis Deutsche Bank Jim Reid menyebut masih terdapat perdebatan mengenai sejauh mana gangguan pasokan minyak jangka pendek akibat gejolak politik tersebut akan diimbangi oleh peningkatan pasokan jangka panjang dari Venezuela.
“Prospek pemulihan pasokan dalam jangka panjang akan menekan harga minyak. Bahkan Presiden Trump menyatakan pada akhir pekan bahwa perusahaan minyak AS akan masuk, menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan pendapatan bagi negara,” kata Reid.
Dikutip dari metrotvnews.com
