Minyak Dunia Kembali Menguat, Harga Capai USD83 per Barel

Minyak Dunia Kembali Menguat, Harga Capai USD83 per Barel

Harga minyak dunia melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memasuki hari keenam tanpa tanda-tanda deeskalasi. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan yang merupakan salah satu penghasil minyak mentah terbesar di dunia.

Dikutip dari Investing.com pada Jumat, 6 Maret 2026, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 3 persen menjadi USD83,89 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,8 persen menjadi USD78,95 per barel.

Secara mingguan, harga minyak acuan tersebut mencatat kenaikan signifikan. Brent naik sekitar 15,7 persen, sedangkan WTI meningkat hingga 17,8 persen sepanjang pekan ini. Bahkan, harga Brent diperdagangkan mendekati level tertinggi sejak Juli 2024.

Kekhawatiran Pasokan dari Selat Hormuz

Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz.

Konflik di Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Situasi semakin memanas ketika Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional dekat Sri Lanka.

Sementara itu, Senat Amerika Serikat pada Rabu juga menolak mosi yang bertujuan menghentikan kampanye udara dan mengharuskan tindakan militer mendapatkan persetujuan Kongres.

Di sisi lain, pemerintah Iran menolak laporan yang menyebutkan bahwa pihaknya mencoba melakukan negosiasi dengan Washington untuk mengakhiri konflik. Teheran menyebut laporan tersebut sebagai informasi yang tidak benar dan menuduh media Barat menyebarkan kabar menyesatkan.

Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran pasar setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak paling penting di dunia. Sekitar seperlima pengiriman minyak global melewati selat tersebut setiap harinya.

Gangguan distribusi ini bahkan mulai berdampak pada negara produsen minyak di kawasan. Irak dilaporkan menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada beberapa ekspor minyak mentah karena pengiriman melalui Selat Hormuz mengalami hambatan.

Irak yang merupakan produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga dilaporkan memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari akibat keterbatasan penyimpanan dan jalur ekspor.

Kekhawatiran Lonjakan Inflasi Global

Lonjakan harga minyak juga menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi peningkatan inflasi global. Kenaikan harga energi biasanya berdampak langsung pada biaya produksi dan harga barang di berbagai sektor ekonomi.

Direktur investasi di AJ Bell, Russ Mould, mengatakan bahwa gangguan terhadap pasokan energi dapat memberikan dampak negatif bagi investor dan konsumen.

Menurutnya, pasar masih mengingat dampak besar dari lonjakan harga minyak yang terjadi pada 1973, 1979, dan 2022 yang memicu tekanan ekonomi global.

Meski demikian, ia menilai kenaikan harga minyak pada tahun 2026 belum sedramatis lonjakan yang terjadi pada periode-periode tersebut. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa pasar masih berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama.

Kenaikan harga energi juga berpotensi memengaruhi kebijakan moneter. Jika inflasi meningkat, kemungkinan bank sentral seperti Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga bisa semakin kecil.

Stok Minyak Mentah AS Meningkat

Di sisi lain, laporan mingguan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah Amerika Serikat meningkat sekitar 5,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Februari 2026.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 2,2 juta barel. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan lonjakan stok sebesar 11,4 juta barel pada pekan sebelumnya.

Para pelaku pasar kini menunggu data resmi dari Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) yang dijadwalkan dirilis dalam waktu dekat untuk mengonfirmasi kondisi persediaan minyak tersebut.

Dikutip dari metrotvnews.com