Penelitian: Terlalu Sering Scroll Media Sosial Tingkatkan Risiko Cemas pada Remaja

Penelitian: Terlalu Sering Scroll Media Sosial Tingkatkan Risiko Cemas pada Remaja

Psikolog klinis dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan pada remaja dapat memicu berbagai dampak psikologis.

Saat dihubungi ANTARA pada Jumat, Teresa mengatakan salah satu dampak yang paling sering muncul adalah kecenderungan remaja membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.

“Remaja bisa merasa tidak cukup menarik, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial,” ujarnya.

Sub judul: Perbandingan sosial dapat memengaruhi harga diri

Teresa menjelaskan bahwa konten yang ditampilkan di media sosial umumnya hanya menunjukkan sisi terbaik seseorang. Namun remaja yang sedang berada dalam fase pencarian identitas belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk memilah antara realitas dan representasi di dunia digital.

Akibatnya, perbandingan sosial yang terjadi secara terus-menerus dapat memengaruhi rasa percaya diri atau harga diri remaja.

Menurutnya, kondisi ini semakin kuat ketika validasi diri terlalu bergantung pada respons di media sosial seperti jumlah suka atau komentar.

“Jika validasi terlalu bergantung pada likes dan komentar, harga diri menjadi sangat eksternal. Artinya rasa percaya diri bergantung pada respons orang lain,” kata Teresa.

Sub judul: Risiko FOMO dan kecemasan sosial

Selain perbandingan sosial, penggunaan media sosial yang intens juga dapat memunculkan fenomena fear of missing out atau FOMO. Kondisi ini menggambarkan rasa takut tertinggal informasi, tren, atau aktivitas sosial yang dilakukan orang lain.

Remaja yang mengalami FOMO cenderung merasa cemas ketika tidak mengikuti perkembangan terbaru atau tidak terlibat dalam percakapan digital bersama teman sebaya.

Sub judul: Penggunaan gawai juga memicu gangguan tidur

Dampak lain yang sering ditemukan adalah gangguan tidur. Kebiasaan menggunakan gawai hingga larut malam, terutama sebelum waktu istirahat, dapat menurunkan kualitas tidur remaja.

Kurangnya waktu tidur juga dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, serta performa belajar pada keesokan harinya.

Meski demikian, Teresa menekankan bahwa media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif. Banyak remaja memanfaatkannya untuk belajar, membangun komunitas, serta mengekspresikan kreativitas.

“Masalah muncul ketika penggunaannya tidak seimbang dan tidak terkelola,” ujar psikolog yang akrab disapa Tesya tersebut.

Ia menambahkan bahwa peran orang tua serta lingkungan sekitar sangat penting dalam membantu remaja menggunakan media sosial secara sehat, bijak, dan proporsional.

Dikutip dari antaranews.com