Harga minyak dunia melonjak pada Rabu (22/4/2026) di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menyusul serangan terhadap kapal di kawasan strategis Selat Hormuz.
Dikutip dari Investing.com, Kamis (23/4/2026), harga minyak mentah Brent naik 3,4 persen menjadi USD101,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 3,7 persen menjadi USD93,01 per barel.
Ketegangan memuncak setelah laporan media pemerintah Iran menyebut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal di Selat Hormuz dan menyita dua kapal, yakni MSC Francesca dan Epaminondas. Iran mengklaim kapal-kapal tersebut berlayar tanpa izin yang diperlukan.
Insiden ini memperparah situasi di jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan pengiriman tanker serta blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran membuat distribusi minyak global semakin tertekan.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan tanpa batas gencatan senjata dua minggu dengan Iran. Meski demikian, kebijakan blokade terhadap Iran tetap diberlakukan, yang dinilai sebagai salah satu pemicu ketegangan.
Trump bahkan mengklaim Iran mengalami kerugian hingga USD500 juta per hari akibat penutupan Selat Hormuz. Ia juga menegaskan bahwa pembukaan jalur tersebut tidak akan terjadi tanpa kesepakatan yang mencabut blokade.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin terjadi selama blokade dan tekanan ekonomi masih berlangsung.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turut menegaskan bahwa blokade dan ancaman menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat, meskipun Iran tetap membuka peluang dialog.
Sementara itu, dinamika pasokan minyak Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah turun 4,4 juta barel pada pekan hingga 17 April. Namun, data resmi Energy Information Administration justru mencatat kenaikan sebesar 1,9 juta barel.
Di tengah ketidakpastian tersebut, analis pasar dari AJ Bell, Russ Mould, menilai pasar masih memperkirakan adanya penyelesaian konflik dalam waktu dekat, sehingga lonjakan harga minyak belum mencapai level tertinggi historis.
Meski demikian, harga minyak tetap berada di bawah puncak tertinggi tahun 2008 sebesar USD147 per barel, bahkan setelah disesuaikan dengan inflasi.
